PLN Buka Peluang Kolaborasi Energi Bersih dan Digitalisasi bagi Pengusaha
E. Haryadi, Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, dalam acara HIPMI-Danantara Indonesia Business Forum 2025 di Jakarta, Senin (20/10).
PT PLN (Persero) membuka berbagai peluang kolaborasi bagi pengusaha dalam rangka percepatan transisi energi, termasuk energi bersih, digitalisasi, dan desentralisasi.
Haryadi, Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan, PLN, menyampaikan industri kelistrikan saat ini menghadapi disrupsi yang dikenal dengan 3D: dekarbonisasi, digitalisasi, dan desentralisasi.
“Ini bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang, khususnya bagi para pengusaha. Isu utama adalah bagaimana transisi energi bisa berjalan adil, efisien, dan berkelanjutan,”ujarnya dalam acara HIPMI-Danantara Indonesia Business Forum 2025 di Jakarta, Senin (20/10).
Dalam transisi energi, kata dia, ada tiga dilema yang membutuhkan kompromi, yaitu listrik bersih, pasokan yang andal, dan tetap terjangkau.
Untuk itu, PLN bersama Kementerian ESDM telah menyusun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang dirilis sejak Mei lalu. Proyek-proyek besar meliputi pembangunan 69,5 GW pembangkit dan 48 ribu kilometer jaringan transmisi, dengan banyak peluang kolaborasi bagi pengusaha.
PLN memiliki berbagai skema kolaborasi, antara lain: Program P100, terkait emisi, dikelola anak perusahaan seperti Indonesia Power, Nusantara Power, dan Icon Plus, dieksekusi 100 persen oleh anak perusahaan. Kemudian, Program P51 dan P30/25, termasuk proyek kolaborasi dengan Independent Power Producer (IPP), di mana IPP dapat menjadi mayoritas dalam kepemilikan proyek.
Di sisi digitalisasi, PLN menghadirkan peluang melalui program smart grid dan pengembangan kendaraan listrik (EV).
“PLN membuka kolaborasi EV charging sebagai contoh. Kesempatan berusaha tersedia untuk membuka EV charging di lokasi komersial, dengan kemitraan langsung dengan PLN melalui Direktorat Retail, serupa dengan SPBU di Pertamina, ada EV charging milik PLN sepenuhnya, atau kolaborasi dengan pihak ketiga,”ujarnya.
Bisnis EV charging ini, jelasnya, memiliki prospek yang cerah dengan pertumbuhan jumlah kendaraan listrik atau EV sangat cepat dan eksponensial.
Selain itu, PLN juga membuka peluang desentralisasi energi melalui pembangunan Virtual Power Plant (VPP) oleh ICON PLUS, yang memanfaatkan PV rooftop rumah-rumah menjadi satu energi. “Saat ini regulasi terkait hal ini masih dibahas dengan Kementerian ESDM,” ujarnya.
Haryadi menekankan pentingnya dukungan regulasi untuk mendorong bisnis baru, termasuk baterai dan energy storage. “Saat ini yang diperjualbelikan baru energi, belum ancillary services. Dukungan regulasi dari kementerian akan memungkinkan munculnya bisnis baru terkait ancillary services, seperti baterai energy storage dan smart grid,” pungkasnya.