SUN Energy Hadirkan Solusi Terintegrasi Dorong Percepatan SIH dan Daya Saing Industri Nasional
SUN Energy menghadirkan solusi terintegrasi untuk mendorong percepatan penerapan standar industri hijau (SIH), dan memperkuat daya saing industri nasional. Hal itu dilakukan untuk mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca dan karbondioksida (dekarbonisasi) dari aktivitas industri nasional.
Ketua Tim Dekarbonisasi Industri, Pusat Hijau Kementerian Perindustrian Sri Gadis Pari Bekti mengatakan, dekarbonisasi sektor industri merupakan prasyarat utama untuk mencapai target emisi nol bersih pada 2050.
“Melalui pembentukan ekosistem industri hijau, yang didukung ketersediaan energi dan teknologi rendah karbon, mekanisme pendanaan yang inklusif, serta kebijakan dan regulasi yang terintegrasi, pemerintah mendorong transformasi industri agar lebih efisien, berdaya saing, dan selaras dengan tuntutan pasar global menuju ekonomi rendah karbon,” kata Sri dalam keterangan resminya pada Kamis (18/12).
Menjawab tantangan itu, CEO SUN Energy E. Jefferson Kuesar mengatakan, pihaknya memposisikan diri sebagai penyedia teknologi energi surya, dan mitra transformasi industri yang menawarkan pendekatan solusi keberlanjutan terintegrasi.
“Berangkat dari pengembangan energi surya, kami menghadirkan ekosistem solusi terintegrasi yang memungkinkan industri menurunkan emisi, dan meningkatkan efisiensi operasional, mulai dari energi surya, sistem penyimpanan energi, hingga elektrifikasi kendaraan operasional,” ujar Jefferson.
Pendekatan itu, kata Jefferson, tercermin dalam pengembangan ekosistem bisnis SUN Energy. Dan itu meliputi instalasi PLTS industri dan komersial, energy storages system (ESS), pengelolaan sumber daya air berkelanjutan, dan elektrifikasi armada kendaraan listrik.
Model itu, kata Jefferson, mempresentasikan pergeseran menuju sustainability as a service. Hal tersebut untuk menghadirkan keberlanjutan sebagai layanan menyeluruh, terukur, dan berorientasi pada dampak bisnis.
“Sektor industri perlu bertransformasi agar tetap relevan dan berdaya saing, baik di tingkat nasional maupun global. Tekanan dari regulasi, pasar, dan rantai pasok mendorong industri untuk segera mengadopsi praktik berkelanjutan dengan mengedepankan operasional rendah emisi,” tutur Jefferson.
Sementara itu, Head of CCC Indonesia Competence Center Cement IndoCement Tunggal Prakarsa Robert Sweigart menambahkan, energi terbarukan menjadi elemen penting dalam menjalankan strategi keberlanjutan perusahaan.
Transisi menuju energi bersih, kata Robert, menjadi bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam meningkatkan efisiensi operasional. Juga mengurangi dampak lingkungan pada era perubahan iklim yang semakin masif.
“Bersama SUN Energy, implementasi ini dimulai dari satu lokasi dan kemudian diperluas ke beberapa fasilitas produksi lainnya, seiring terbuktinya kinerja, keandalan sistem, dan dampak pengurangan emisi yang terukur,” ujar Robert.