Ekonom Nilai Dampak Tapering ke Indonesia Minim

0
587

Rencana bank sentral Amerika Serikat, The Fed, untuk mengurangi kucuran likuiditas (tapering) menjadi isu global yang berpengaruh ke pasar keuangan berbagai negara di dunia saat ini, terutama negara berkembang (emerging market). Namun dampak kebijakan tersebut ke pasar keuangan Indonesia dinilai relatif minim, sekalipun kebijakan tersebut diikuti kenaikan suku bunga acuan di negara itu.

Raden Pardede, ekonom senior yang kini juga mejabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) mengatakan implikasi kebijakan tapering bila itu dilakukan adalah berkurangnya likuiditas bahkan mungkin akan menyerap likuiditas dari pasar.

Bila kebijakan tersebut ditempuh oleh bank sentral Amerika Serikat, maka ada kemungkinan suku bunga di negara itu juga akan naik. Hal ini tentunya akan berdampak ke Indonesia karena para inevestor atau pemodal terutama dari pemodal fixed income atau pasar obligasi bisa saja hengkang dari Indonesia dan masuk ke pasar Amerika Serikat yang memiliki kupon yang lebih menarik.

“Akan teapi kalau kita lihat sekarang ini, kalau kita lihat perbedaan riil interest rate antara Indonesia dengan Amerika itu besar sekali. Itu mencapai sekarang 7,5% sampai 8% [selih] riil interest ratenya. Jadi, sangat besar sekali,” ujar Raden dalam forum Indonesia Knowledge Forum X 2021 yang digelar BCA, Kamis (7/10).

Baca Juga :   KPC-PEN: Kompensasi Kontraksi 2020, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tidak Cukup Hanya 5%

Selain selisih tingkat suku bunga riil yang lebar, menurut Raden, saat ini porsi kepemilikan asing di pasar obligasi Indonesia juga sudah berkurang dari 40% hingga 45% sebelum pandemi Covid, menjadi sekitar 28% saat ini.

“Jika pun pemilik-pemilik modal ini pergi nanti dan dampaknya itu sudah jauh lebih berkurang dari sebelum pandemi,” ujar Raden.

Indonesia, tambah Raden juga memiliki cadangan devisa yang besar akibat dari meningkatnya ekspor. Pertama kali dalam sejarah, katanya, cadangan devisa Indonesia mencapai US$147 miliar. Selain itu, neraca dagang Indonesia juga saat ini mengalami surplus karena lonjakan harga komoditas yang mendorong ekpsor.

“Dengan alasan-alasan itu, dampaknya ke Indonesia meski ada tapering dan ada kenaikan suku bunga di Amerika terhadap ekonomi kita sangat minimal,” ujar Raden.

 

Leave a reply

Iconomics