Danantara dan ENRG Rambah Pasar Migas AS, Investasi US$450 Juta di HighPeak Energy

Investasi ini sekaligus memberikan DIM dan ENRG eksposur terhadap aset HighPeak di Midland Basin, West Texas, yang merupakan bagian dari Permian Basin, salah satu wilayah penghasil hidrokarbon utama dunia.
0
48

PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memperluas portofolio bisnis ke pasar energi Amerika Serikat melalui investasi US$450 juta atau sekitar Rp8,1 triliun pada perusahaan hulu minyak dan gas bumi (migas) AS, HighPeak Energy, Inc. (NASDAQ: HPK).

Investasi tersebut dilakukan melalui pembelian 450.000 saham Series A 6% Perpetual Convertible Preferred Stock yang baru diterbitkan HighPeak. Berdasarkan pengumuman HighPeak Energy pada 6 Oktober 2026, investasi tersebut merupakan bagian dari paket refinancing perusahaan senilai lebih dari US$1,25 miliar.

Sementara itu, dalam keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), ENRG menyebut investasi perseroan sebesar US$ 200 juta atausekitar Rp3,6triliun. Sementaraitu, DIM mengambil porsi US250 juta atau sekitar Rp4,5 triliun.

HighPeak mengatakan investasi US$450 juta tersebut akan dikombinasikan dengan fasilitas kredit berbasis cadangan (reserve-based lending/RBL) baru sebesar US$800 juta dan kas yang tersedia. Dana tersebut akan digunakan untuk melunasi seluruh term loan eksisting HighPeak senilai US$1,17 miliar.

Investasi ini sekaligus memberikan DIM dan ENRG eksposur terhadap aset HighPeak di Midland Basin, West Texas, yang merupakan bagian dari Permian Basin, salah satu wilayah penghasil hidrokarbon utama dunia.

HighPeak merupakan perusahaan migas independen yang berbasis di Fort Worth, Texas. Perusahaan tersebut berfokus pada akuisisi, pengembangan, eksplorasi, dan eksploitasi cadangan minyak mentah serta gas alam nonkonvensional di Midland Basin.

Baca Juga :   Hamdani Ditunjuk Jadi Plh EVP Corsec Hutama Karya

Porsi Investasi dan Hak Investor

Dalam transaksi tersebut, ENRG mengucurkan dana US$200 juta. Perseroan menyatakan nilai transaksi masuk kategori Transaksi Material sebagaimana diatur dalam POJK No. 17/POJK.04/2020 karena nilainya berada pada kisaran 20% hingga 50% dari total ekuitas perseroan per 30 Juni 2026.

ENRG juga menyatakan transaksi tersebut bukan merupakan transaksi afiliasi.

Sementara itu, saham preferen yang dibeli konsorsium memiliki sejumlah hak ekonomi dan tata kelola.

Saham tersebut tidak memiliki tanggal jatuh tempo. Dividen tunai kumulatif sebesar 6% per tahun dibayarkan secara kuartalan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan apabila dinyatakan oleh Dewan Direksi HighPeak.

Pemegang saham juga memiliki hak untuk mengonversi saham preferen menjadi saham biasa HighPeak setiap saat. Harga konversinya ditetapkan sebesar US$9,50 per saham, dengan perhitungan jumlah saham konversi yang juga memperhitungkan dividen yang telah terakru dan belum dibayarkan.

Selain itu, setelah ulang tahun ketiga sejak tanggal penutupan transaksi, HighPeak dapat menebus saham preferen tersebut dengan harga yang menghasilkan tingkat internal rate of return (IRR) sebesar 10%.

Saham preferen juga dapat dikonversi secara wajib atas opsi HighPeak setelah tahun ketiga apabila harga penutupan saham biasa perusahaan berada di atas 150% dari harga konversi selama 30 dari 40 hari perdagangan berturut-turut.

Dari sisi tata kelola, DIM dan ENRG masing-masing berhak menunjuk satu anggota untuk duduk di Dewan Direksi HighPeak.

Baca Juga :   Pertamina Buka Mudik Gratis dan Arus Balik 2026, Catat Tanggal Pendaftarannya

Direktur Utama ENRG Syailendra S. Bakrie bersama Wakil Direktur Utama Edoardus Ardianto mengatakan investasi tersebut diharapkan memberikan manfaat strategis bagi perseroan, terutama melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman teknis dengan HighPeak.

“Kami berharap dapat memperoleh sinergi dalam bentuk transfer pengetahuan teknis maupun nilai tambah antara portofolio Perseroan yang ada dengan aset-aset HighPeak, terutama melalui ekspos terhadap praktik operasional, teknologi, dan kapabilitas di industri hulu Amerika Utara,“ ujar manajemen ENRG dalam keterbukaan informasi.

ENRG saat ini mengoperasikan 13 wilayah kerja migas yang tersebar di Sumatra, Jawa Timur, Sulawesi Selatan hingga Mozambik. Per Juni 2026, perseroan memiliki total basis cadangan dan sumber daya sebesar 427 MMBOE.

Manajemen ENRG menempatkan investasi di HighPeak sebagai bagian dari strategi ekspansi anorganik internasional untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Perseroan juga menegaskan investasi tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan disiplin alokasi modal.

Masuknya ENRG ke HighPeak juga memberikan akses terhadap aset Midland Basin, termasuk wilayah konsesi, inventori lokasi pengeboran, dan infrastruktur yang dimiliki perusahaan AS tersebut. HighPeak menyebut aset-aset itu berada di salah satu cekungan hidrokarbon paling produktif di dunia.

Bagian dari Refinancing US$1,25 Miliar

Bagi HighPeak, masuknya DIM dan ENRG bukan sekadar penambahan investor baru, tetapi menjadi bagian penting dari restrukturisasi struktur permodalan perusahaan.

HighPeak menyebut paket refinancing tersebut terdiri atas investasi saham preferen senilai US450 juta dan fasilitas kredit baru sebesar US$ 800 juta. Fasilitas tersebut disediakan oleh Citibank, N.A. dan Fifth Third Bank, N.A.

Baca Juga :   Prabowo Sebut Danantara Berpotensi Kelola Aset Senilai US$ 1 Triliun

Kombinasi kedua sumber pendanaan tersebut, ditambah kas yang tersedia, ditujukan untuk melunasi term loan HighPeak senilai US$1,17 miliar.

CEO HighPeak Energy Michael Hollis mengatakan transaksi tersebut akan memperkuat neraca, mengurangi beban pembiayaan, dan memberikan fleksibilitas keuangan yang lebih besar bagi perusahaan.

“Refinancing komprehensif ini akan memperkuat neraca keuangan kami secara signifikan, mengurangi beban pembiayaan secara substansial, serta meningkatkan kemampuan kami untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham,” kata Hollis dalam pengumuman perusahaan. 

Dengan struktur baru tersebut, HighPeak berharap dapat meningkatkan likuiditas, menurunkan beban bunga tahunan, serta memiliki ruang lebih besar untuk menjalankan pengembangan aset secara disiplin dan menghasilkan arus kas bebas.

Fasilitas RBL baru tersebut memiliki komitmen awal sebesar US$800 juta. Ketersediaannya tetap bergantung pada borrowing base final, komitmen yang dipilih, jumlah pinjaman yang ditarik, letter of credit, kovenan keuangan, serta persyaratan lainnya.

Transaksi investasi dan refinancing tersebut ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026, dengan tetap tunduk pada persyaratan penutupan yang lazim.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics