Navigasi Public Affairs 2026: Menjawab Uncertainty dengan Agility, Adaptif dan Kekuatan Personal Relationship
Ketua Public Affairs Forum Indonesia & Dewan Kehormatan Perhumas, Agung Laksamana/Dok. Ist
Mengawali tahun 2026, lanskap komunikasi dan kebijakan di Indonesia dihadapkan pada dinamika yang kian kompleks. Ranah Public Affairs (PA) kini bukan lagi sekadar urusan mengelola regulasi, melainkan sebuah pertarungan strategis di tengah pusaran teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tuntutan lisensi bisnis yang ketat, hingga keharusan menjaga reputasi di tengah arus informasi dunia yang mengalami overload.
Penting bagi para praktisi PA untuk memahami perubahan besar yang mendefinisikan tahun ini. Konsep “Angka 8” sebagai delapan tren utama dapat menjadi penentu keberhasilan organisasi dalam mengelola hubungan publik dan pemerintah sepanjang 2026.
8 Tren Penentu 2026
Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5%, praktisi PA tidak lagi bisa sekadar menjadi penonton atau fungsi pendukung. PA harus bertransformasi menjadi solution provider. Fokus utama PA adalah menekankan kontribusi nyata terhadap bisnis, pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional, penciptaan lapangan kerja, serta iklim investasi yang positif.
Cepatnya perubahan regulasi menjadi tantangan tersendiri. Kebijakan saat ini berubah sangat cepat dan sering, menuntut fungsi PA untuk membangun sistem early intelligence dan melakukan advokasi berbasis data (evidence-based). Perubahan kecil dalam regulasi bisa berdampak besar bagi keberlangsungan bisnis. There is no free lunch—tidak ada makan siang gratis. Advokasi harus kuat secara substansi, bukan sekadar lobi-lobi kasual.
Lebih lanjut, terjadi pergeseran paradigma dari sekadar “meminta” (asking) menjadi “menciptakan solusi bersama” (co-creating solutions) dengan regulator. Di sisi lain, isu keamanan data (data leaks) dan tuntutan dampak nyata ESG (Environmental, Social, and Governance) menjadi tantangan reputasi yang krusial. Publik kini tidak lagi puas dengan sekadar laporan di atas kertas; mereka menuntut dampak riil terhadap lapangan kerja, lingkungan, dan masyarakat.
Dalam aspek era digital yang lebih kompleks, sentimen media sosial kini secara nyata memengaruhi keputusan kebijakan pemerintah. Selain itu, cara publik mencari informasi telah bergeser; hari ini orang bertanya ke AI, bukan lagi ke mesin pencari konvensional. Akhirnya, praktisi PA harus beradaptasi dan mampu mengelola visibilitas AI agar narasi perusahaan tetap konsisten serta positif.
Tahun 2026 adalah tahun di mana adaptasi teknologi menjadi kewajiban untuk mencapai agility, namun menjaga integritas dan hubungan kemanusiaan tetap merupakan strategi bisnis yang paling mutakhir.
Esensi di Balik Teknologi: Be Nice to People
Meskipun teknologi AI dan data mendominasi perbincangan, ada sisi humanis yang tidak boleh kita lupakan. Saya teringat kisah Mark Zuckerberg di masa kuliahnya di Harvard. Saat itu, ia tetap diterima dengan baik oleh rekannya, KX Jin, meskipun ia pernah masuk ke ruang kuliah dengan baju terbalik dan tag harga bajunya masih nyangkut keluar. Persahabatan tulus dan penerimaan tanpa syarat itulah yang kemudian menjadi pilar Mark dan KX Jin dalam membangun Facebook hingga sebesar sekarang.
Pesan moralnya sederhana tapi dalam bagi dunia profesional, seperti kata Mark Zuckerberg dalam pidatonya itu: “that’s why you should be nice to people.”
Dalam konteks ini, di tengah lanskap dunia yang berubah kontinyu karena teknologi, sosio-politik, dan ekonomi, ada satu hal yang tidak akan pernah berubah dalam dunia Public Affairs, yaitu kekuatan hubungan antarmanusia (relationship).
Sehingga, definisi PA bukanlah semata-mata public affairs, namun juga personal advocacy. Kekuatannya terletak pada relasi dan kepercayaan (trust). Seberapa canggih pun AI yang kita gunakan, pada akhirnya fondasi utamanya adalah seberapa baik kita memperlakukan orang lain dan membangun jejaring (network).
Just be nice to people!