Realisasi Investasi 2025 Tembus Rp1.931 Triliun, Rosan: Lampaui Target dan Serap 2,7 Juta Tenaga Kerja
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan realisasi investasi sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun atau melampaui target pemerintah sebesar Rp1.905,6 triliun. Capaian tersebut setara 101,3 persen dari target dan tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year on year).
“Capaian ini adalah hasilnya kerja sama dari kita semua dan terima kasih atas dukungan semua pihak,” ujar Rosan dalam konferensi pers realisasi investasi Triwulan IV dan tahunan 2025, Kamis (15/1/2025).
Rosan menjelaskan, meski 2025 diwarnai ketidakpastian global akibat perlambatan ekonomi dunia, ketegangan geopolitik, dan fragmentasi perdagangan internasional, Indonesia tetap mampu menjaga kepercayaan investor. Kinerja investasi pada Triwulan IV 2025 tercatat sebesar Rp496,9 triliun atau berkontribusi 26,1 persen terhadap total realisasi investasi sepanjang tahun.
Dari sisi dampak, investasi sepanjang 2025 berhasil menyerap 2.710.532 tenaga kerja, meningkat 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Salah satu tugas utama dari pemerintah adalah menciptakan lapangan pekerjaan baru yang baik dan berkualitas,” kata Rosan.
Berdasarkan sumber investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi dengan nilai Rp1.030,3 triliun atau 53,4 persen dari total realisasi investasi. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp900,9 triliun atau 46,6 persen, mencerminkan tetap kuatnya minat investor asing di tengah dinamika global.
Dari sisi wilayah, sebaran investasi menunjukkan pemerataan yang semakin baik. Luar Jawa berkontribusi Rp991,2 triliun atau 51,3 persen, lebih tinggi dibandingkan Jawa yang menyumbang Rp940,0 triliun atau 48,7 persen. Capaian ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Secara sektoral, lima subsektor dengan realisasi investasi terbesar sepanjang 2025 dipimpin oleh industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar Rp262,0 triliun (13,6 persen). Selanjutnya transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar Rp211,0 triliun (10,9 persen), pertambangan Rp199,6 triliun (10,3 persen), jasa lainnya Rp170,5 triliun (8,8 persen), serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp140,4 triliun (7,3 persen).
Rosan menegaskan pemerintah terus memperkuat iklim investasi melalui diplomasi ekonomi dan perbaikan regulasi di dalam negeri, salah satunya dengan penerbitan PP Nomor 28 Tahun 2025 yang memberikan kepastian waktu perizinan melalui mekanisme fiktif positif. Hingga 14 Januari 2026, tercatat 175 perizinan telah diterbitkan melalui mekanisme tersebut.
“Kami juga terus mendorong hilirisasi, tidak hanya di sektor mineral, tetapi juga pertanian, perkebunan, dan perikanan, agar investasi memberikan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja yang berkualitas,” ujar Rosan.