Governance Reset di BUMN Dimata Peneliti LPEM FEB UI, Ada Poin yang Mesti Danantara Kerjakan

0
66

Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Mohamad Dian Revindo menilai langkah governance reset yang dilakukan Danantara Indonesia terhadap BUMN sebagai upaya positif. Ia melihat usaha ini bisa menjadi fondasi bagi berjalannya proses transformasi dalam menghadirkan BUMN yang bisa menjadi instrumen pembangunan nasional.

“Jadi, governance reset tidak seharusnya berhenti pada pembenahan administratif. Namun dapat mewujudkan visi membawa BUMN menjadi instrumen utama pembangunan nasional,” kata Revindo dalam keterangannya.

Revindo menilai governance reset di BUMN memiliki dua dimensi sekaligus, yakni dimensi korektif dan strategis. Dalam jangka pendek, menurut dia, langkah seperti bedah neraca dan laporan keuangan, atau audit aset merupakan corrective action untuk merespons berbagai persoalan lama BUMN. “Seperti inefisiensi aset, tumpang tindih investasi, serta kualitas tata kelola yang belum merata antar perusahaan,” ujarnya.

Dalam perspektif jangka panjang, Revindo mengatakan governance reset ini seharusnya menjadi reposisi strategis BUMN. Terutama untuk memastikan negara tetap memiliki kendali efektif atas sektor-sektor strategis yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak, seperti energi, infrastruktur, pangan, dan logistik.

Baca Juga :   Danantara Gelar Corporate Communication Gathering Perkuat Kolaborasi Komunikasi Strategis

“Dalam konteks global, banyak negara menggunakan state-owned enterprises sebagai instrumen kebijakan industri dan kedaulatan ekonomi. OECD (2023 dan 2024) mencatat bahwa BUMN tetap memainkan peran strategis dalam sektor energi, transportasi, dan keuangan di banyak negara,” jelas Revindo.

Revindo meyakini ketika Danantara Indonesia melakukan evaluasi ulang kebijakan tata kelola BUMN, hal tersebut bakal mendapatkan perhatian dari pasar. Misalnya saja, kata dia, keyakinan baru akankah BUMN bisa konsisten dengan standar internasional dengan mengedepankan proses yang dijalankan secara transparan.

Revindo optimistis langkah governance reset ini dapat meningkatkan kredibilitas BUMN di mata investor dan lembaga pemeringkat. Sebaliknya lanjut Revindo, jika perubahan dipersepsikan sebagai upaya kosmetik untuk memperbaiki laporan keuangan, maka bisa memicu ketidakpastian di pasar.

“Untuk itu, alignment dengan standar global dan transparansi komunikasi publik menjadi kunci,” katanya.

Revindo juga mengingatkan Danantara Indonesia melakukan governance reset terhadap sistem insentif manajemen, mekanisme pengawasan dan indikator kinerja berbasis value creation. Sehingga perubahan yang dilakukan Danantara Indonesia tidak sekadar pergantian struktur dan administrasi.

Baca Juga :   Berbagi di Hari Raya Iduladha, Pertamina Salurkan 4.493 Hewan Kurban

Bila hanya pada tahap pergantian struktur dan administrasi, Revindo khawatir akan memicu terjadinya resistensi internal.

“Jika perubahan hanya bersifat administratif, resistensi akan tetap muncul. Tetapi jika reformasi menciptakan insentif yang lebih jelas dan profesional, maka adaptasi biasanya dapat terjadi secara bertahap. Berbagai studi menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi sangat bergantung pada perubahan sistem insentif dan akuntabilitas manajemen,” kata Revindo.

Sebelumnya Danantara Indonesia sudah menyampaikan rencana melakukan governance reset kepada sejumlah BUMN. Melalui entitas Danantara Asset Management (DAM), governance reset ini akan fokus pada pengkajian secara menyeluruh dan terstruktur terhadap perusahaan-perusahaan BUMN. Proses ini mencakup evaluasi kebijakan akuntansi, kualitas dan pencatatan aset, penguatan sistem tata kelola serta manajemen risiko yang terintegrasi.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics