CEO Indonesia Economic Forum: Impor Kendaraan dari India, Peluang Hadirkan Persaingan dan Menarik Investasi dari India
Ilustrasi kendaraan asal India/Dok. India Embassy
Pengadaan kendaraan komersial dari Tata Motors dan Mahindra asal India oleh Indonesia, dalam hal ini PT Agrinas Pangan Nusantara dipandang CEO Indonesia Economic Forum, Sachin V. Gopalan memiliki dampak positif. Menurutnya, masuknya kendaraan dari produsen India ini sebagai peluang untuk menghadirkan persaingan dalam pasar yang selama ini didominasi oleh satu ekosistem industri.
Kendaraan dari India tersebut diperkirakan harganya sekitar Rp120 juta hingga Rp150 juta lebih murah per unit dibandingkan alternatif sejenis yang saat ini tersedia di Indonesia. Untuk program pemerintah berskala besar yang bertujuan memperkuat logistik pedesaan dan rantai pasok pertanian, penghematan ini dapat mencapai triliunan rupiah.
Sachin mengatakan selama lebih dari lima dekade, industri otomotif Indonesia didominasi oleh produsen Jepang seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Honda, Suzuki, dan Isuzu. Perusahaan-perusahaan ini beroperasi melalui usaha patungan dengan konglomerat Indonesia serta telah membangun jaringan perakitan, pemasok, dan distribusi yang luas. Meskipun ekosistem ini berkontribusi terhadap pertumbuhan industri, kondisi tersebut juga menciptakan pasar yang sangat terkonsentrasi, di mana tingkat persaingan terbatas dan harga kendaraan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pasar berkembang lainnya.
Sachin juga meyakinkan bagi Indonesia, kerja sama dengan India di sektor seperti manufaktur otomotif dapat membantu memperkuat rantai pasok pedesaan, mendukung usaha mikro, serta memperluas akses terhadap teknologi yang terjangkau.
Oleh karena itu, ia berharap para pembuat kebijakan fokus pada pembangunan ekosistem otomotif yang lebih beragam dan kompetitif. Menurutnya, impor dapat memenuhi kebutuhan segera untuk program nasional seperti Koperasi Merah Putih (KMP), sementara kebijakan jangka panjang dapat mendorong produsen India untuk membangun fasilitas perakitan lokal serta menjalin kemitraan dengan perusahaan Indonesia.
Sachin kembali menegaskan pendekatan ini akan menggabungkan keunggulan biaya dari rekayasa otomotif India dengan penciptaan lapangan kerja domestik dan pengembangan jaringan pemasok lokal. Langkah ini juga akan mengurangi ketergantungan pada satu ekosistem industri saja dan mendorong lingkungan persaingan yang lebih sehat.
CEO Indonesia Economic Forum ini juga menyampaikan perdagangan bilateral antara kedua negara meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan kini telah melampaui sekitar US$30 miliar per tahun. Namun, struktur perdagangan tersebut masih sangat didominasi oleh komoditas mentah. Ekspor Indonesia ke India sebagian besar berupa batu bara dan minyak sawit, sementara India mengekspor barang manufaktur, produk farmasi, serta layanan teknologi.
Kemitraan jangka panjang yang berkelanjutan membutuhkan diversifikasi di luar komoditas. Tidak realistis maupun tidak diinginkan jika India hanya terus meningkatkan impor batu bara dan minyak sawit dari Indonesia. Perluasan kerjasama ke sektor seperti manufaktur otomotif, teknologi digital, peralatan industri, dan farmasi akan menciptakan hubungan ekonomi yang lebih seimbang.
Peran India dalam sektor farmasi memberikan contoh yang relevan. Perusahaan farmasi India seperti Sun Pharma, Dr. Reddy’s Laboratories, Cipla, Lupin, Hetero, dan Aurobindo Pharma termasuk produsen obat generik. Perusahaan-perusahaan ini menyediakan pengobatan terjangkau untuk berbagai penyakit umum seperti diabetes, hipertensi, dan infeksi.