Indonesia Eximbank Institute Bedah Risiko dan Peluang Indonesia di Tengah Ketegangan Timur Tengah

0
73

Indonesia Eximbank Institute melihat risiko dan peluang di tengah ketegangan konflik di Timur Tengah bagi Indonesia. Dampak langsung terhadap perdagangan diperkirakan relatif terbatas mengingat eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut masih kecil. Risiko utama justru muncul melalui kanal tidak langsung, terutama kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama yang dapat memengaruhi dinamika ekspor Indonesia.

Indonesia Eximbank Institute yang mengolah data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional, dengan komoditas utama meliputi minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703). Sedangkan impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9% dari total impor nasional dan didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. Struktur perdagangan tersebut menunjukkan bahwa eksposur perdagangan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik relatif terbatas.

Sebagian besar ekspor Indonesia mengalir ke kawasan lain seperti Asia Timur sebesar 36,4%, Asia Tenggara sebesar 20,8%, Amerika Utara sebesar 11,5%, Asia Selatan sebesar 9,6%, dan Eropa Barat sebesar 5,7%, sehingga dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi faktor yang menentukan bagi kinerja ekspor nasional.

Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani mengatakan bahwa perkembangan konflik dan implikasinya terhadap perdagangan global terus dipantau, terutama terkait stabilitas jalur energi internasional.

Baca Juga :   Kontroversi Bisnis Rokok Elektrik Secara Global

“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” kata Rini dalam keterangannya.

Kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam sistem energi global karena menyumbang lebih dari 30% produksi minyak dunia, sementara sekitar 20–30% perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini dapat dengan cepat memengaruhi harga energi internasional sekaligus meningkatkan biaya logistik perdagangan global.

Walaupun impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap dapat dirasakan melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75% impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia. Kedua negara tersebut juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan di kawasan tersebut dapat mendorong kenaikan harga energi yang dihadapi Indonesia.

Indonesia Eximbank Institute juga mencermati dampak perubahan distribusi energi global terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut merupakan konsumen energi utama dari kawasan Teluk sekaligus pasar ekspor penting bagi Indonesia. Peningkatan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri di negara-negara tersebut dan memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.

Baca Juga :   Perluas Pasar Ekspor ke Asia dan Amerika Selatan, Phapros Perkirakan Pertumbuhan Ekspor Di Atas 15%

Apabila ketegangan geopolitik berlangsung dalam periode yang relatif lama, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran US$85–120 per barel secara rata-rata, lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih berada di sekitar US$60 per barel.

Indonesia Eximbank Institute menyampaikan kenaikan harga energi dan biaya logistik berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi eksportir Indonesia, tekanan tersebut akan lebih terasa pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya input dapat menggerus margin produksi, terutama apabila di saat yang sama permintaan global mengalami perlambatan.

Selain itu, volatilitas pasar keuangan global juga dapat menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia. Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri domestik sehingga memperbesar tekanan biaya bagi sektor yang berorientasi ekspor.

Di tengah berbagai risiko tersebut, beberapa komoditas ekspor Indonesia justru mengalami kenaikan harga seiring kenaikan harga energi global. Batubara, yang memiliki kontribusi sekitar 8–9% terhadap total ekspor nasional, berpotensi mendapatkan dorongan harga. Sementara itu, harga minyak kelapa sawit (CPO) juga menunjukkan tren yang relatif kuat seiring masih solidnya permintaan global terhadap komoditas agro. Selain itu, sejumlah komoditas dengan bahan baku lokal di tengah tren penurunan suku bunga sebelumnya turut menekan biaya produksi sehingga membuka ruang bagi peningkatan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global.

Baca Juga :   Terlibat di Paviliun Indonesia di World Expo 2025 Osaka Wujud Komitmen Astra Perkuat Diplomasi Internasional

“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” tambah Rini.

Dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas serta kondisi perdagangan global, ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh pada kisaran 4–5%, dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 5–6% pada 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap dan meredanya tensi geopolitik.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics