Krisis Timur Tengah, ICDX Catat Lonjakan Transaksi Kontrak Berjangka Minyak Mentah

0
44

Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mencatat lonjakan transaksi kontrak berjangka minyak mentah sejak krisis politik di Timur Tengah akhir Februari lalu.

Sepanjang Maret 2026, transaksi kontrak berjangka minyak mentah COFU10 tercatat sebanyak 648 lot, melonjak signifikan dibandingkan Februari 2026 yang hanya 12 lot dan Januari 2026 sebanyak 4 lot.

COFU10 merupakan kontrak berjangka minyak mentah yang merepresentasikan 10 barel per lot. Jenis minyak mentah dalam kontrak ini adalah West Texas Intermediate (WTI), yaitu minyak mentah ringan (light) dan manis (sweet) yang menjadi salah satu patokan (benchmark) harga minyak dunia.

“Lonjakan transaksi kontrak berjangka minyak mentah, khususnya COFU10, menunjukkan tingginya minat pelaku usaha untuk melakukan hedging atau lindung nilai atas komoditas tersebut,” ujar Direktur ICDX, Nursalam.

Nursalam menambahkan, krisis di Timur Tengah memberikan guncangan pada pasar energi global, khususnya minyak mentah. Dalam situasi seperti ini, hedging dapat membantu mengelola risiko akibat perubahan harga di pasar fisik (spot).

Baca Juga :   ICDX: Jepang dan Korea Selatan Ikuti Jejak IEA, Minyak Kian Merosot

“Selain kontrak berjangka minyak mentah, ICDX juga telah memfasilitasi transaksi multilateral yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk melakukan hedging atas berbagai komoditas, seperti mata uang dan emas. Sebagai bursa, kami akan terus mengembangkan kontrak berjangka sesuai kebutuhan pelaku usaha,” jelasnya.

Sementara itu, Commodity Analyst Research & Development ICDX, Girta Yoga, menilai harga minyak mentah dalam jangka pendek masih cukup kuat bergerak dalam tren bullish.

Kondisi ini dipicu oleh risiko geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Konflik di kawasan tersebut berdampak langsung pada gangguan pasokan global akibat aksi saling blokade di jalur pengiriman vital, terutama Selat Hormuz, yang berkontribusi terhadap sekitar 20% pasokan energi dunia.

Selain itu, lanjut Yoga, pasar juga mencermati sejumlah indikator lain, seperti kelanjutan negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, perkembangan konflik Israel–Lebanon, kebijakan output OPEC+, serta pertumbuhan permintaan dari negara importir utama seperti China dan India.

Ia memperkirakan level resistance terdekat harga minyak mentah dalam jangka pendek berada di kisaran 95–100 dolar AS per barel.

Baca Juga :   Semester I 2025, Investasi EBT Tembus Rp21,64 Triliun, ICDX: REC Jadi “Pemanis” 

“Apabila mendapat katalis negatif, harga berpotensi turun menuju level support di kisaran 75–80 dolar AS per barel,” ujar Yoga.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics