Bosch Indonesia Sediakan Jaringan Air Bersih yang Berikan Dampak untuk Kesehatan dan Ekonomi
Bantuan saluran air bersih Bosch Indonesia untuk Warga Desa Pasirranji di Cikarang/Dok. Bosch
Bosch Indonesia bersama Habitat for Humanity Indonesia memfasilitasi jaringan air bersih melalui program “Bosch Water Project” . Program Director Habitat for Humanity Indonesia, Arwin Soelaksono mengatakan bahwa akses air bersih bukan sekadar menghadirkan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan kepastian, kesehatan, dan kualitas hidup yang lebih baik bagi keluarga.
Upaya ini sejalan dengan target pemerintah daerah dalam memperluas cakupan layanan air bersih hingga 60% pada 2026, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainability Development Goal’s/SDGs) di sektor air bersih dan sanitasi. Dalam implementasinya, Bosch Indonesia juga melibatkan partisipasi karyawan melalui kegiatan volunteering sebagai bentuk keterlibatan langsung di tingkat komunitas.
Akses air bersih yang belum merata dialami di Desa Pasirranji, Kecamatan Cikarang Pusat. Air tanah dari sumur di sekitar permukiman memang masih dimanfaatkan, namun umumnya belum memenuhi standar. Kondisinya kerap keruh dan tidak selalu aman digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini terjadi meski upaya pengeboran sumur hingga kedalaman 135–150 meter telah dilakukan, namun hasilnya tetap belum dapat dimanfaatkan secara optimal. “Airnya ada, tapi sering berwarna kuning, berminyak, dan terasa pahit, sehingga tidak bisa digunakan. Karena itu, warga harus bergantung pada pasokan air dari sistem perpipaan,” kata Kepala Desa Pasirranji, Wardi Sunandar.
Keterbatasan sumber air tanah membuat sebagian besar warga bergantung pada pasokan dari luar wilayah. Di tengah kawasan industri yang terus berkembang, air bersih justru harus didatangkan dari jarak hingga belasan kilometer sebelum akhirnya bisa digunakan di rumah.
Proses distribusinya tidak hanya memakan waktu, tetapi juga bergantung pada ketersediaan armada dan antrean pasokan. Dalam kondisi tersebut, air menjadi kebutuhan yang harus direncanakan dengan cermat agar tidak habis sebelum pasokan berikutnya tiba.
Atang, warga Kampung Cimahi yang telah lebih dari lima tahun tinggal di wilayah tersebut, masih mengingat masa ketika air tidak pernah benar-benar tersedia di rumahnya. “Kita pesan mobil tangki, kadang datangnya dua hari kemudian karena antre,” kata Atang.
Ia menyebut biaya yang dikeluarkan bisa mencapai sekitar Rp160.000 per minggu atau hampir Rp1 juta per bulan, belum termasuk pembelian air galon saat kondisi darurat. Namun, persoalan tidak hanya biaya, tetapi juga ketidakpastian pasokan, di mana warga terkadang harus membawa jerigen berkeliling untuk mencari air yang masih tersedia.
Seiring masuknya jaringan perpipaan ke permukiman, perubahan mulai dirasakan warga meski belum merata. Kehadiran jaringan ini perlahan mengubah cara warga memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Bagi Pak Atang, perubahan tersebut juga berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Jika sebelumnya biaya air bisa mendekati Rp1 juta per bulan, kini turun menjadi sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu untuk dua rumah.
Di sisi lain, ketergantungan pada jerigen dan truk tangki mulai berkurang. Warga tidak lagi harus menempuh jarak jauh atau menunggu pasokan untuk mendapatkan air. Akses yang sebelumnya terbatas kini berangsur menjadi lebih dekat dan pasti.
“Melalui kolaborasi dengan Bosch Indonesia, kami melihat bagaiman intervensi ini memberikan membantu warga Kampung Cimahi dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari,” kata Arwin dalam keterangannya.