Data Pribadi Disebut Bagian Penting dari Perlindungan Finansial

0
12
Reporter: Rommy Yudhistira

PT Asuransi Jiwa Sequis Life menilai perlindungan data pribadi menjadi bagian penting dari perlindungan finansial. Data pribadi tidak lagi sekadar informasi, tetapi telah menjadi aset yang memiliki ekonomi, dan perlu dikelola dengan baik.

Data Protection Officer Sequis Life Atika Rahma mengatakan, tercatat jumlah pengguna internet telah mencapai lebih dari 235 juta jiwa, atau sekitar 81,72% dari total populasi penduduk Indonesia. Di sisi lain, ada sekitar 944 ribu akun terdampak kebocoran data dengan estimasi kerugian akibat kejahatan siber dan kebocoran data lebih dari Rp 9 triliun.

“Keamanan data menjadi isu yang tidak boleh diabaikan. Pelaku usaha perlu memahami risiko serta menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola data guna melindungi data pribadi maupun data pelanggan, mitra bisnis dan vendor,” kata Atika dalam acara Sequis Shepreneur Learning Series beberapa waktu yang lalu.

Perlindungan data, kata Atika, perlu dilakukan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Mengingat aktivitas digital yang ada saat ini pun semakin dibayangi dengan berbagai risiko kejahatan siber, dan penyalahgunaan data yang bisa menimbulkan kerugian.

Baca Juga :   Sequis Life Bukukan Pendapatan Premi Rp1,46 Triliun di Kuartal II-2022

“Data tersebut dapat mencakup identitas, data finansial, data kesehatan, hingga data biometrik,” ujar Atika.

Masih soal perlindungan data pribadi, kata Atika, Sequis Life berkomitmen mendukung perempuan wirausaha dengan memperkuat literasi keuangan, meningkatkan kapasitas bisnis, dan membekali peserta dengan keterampilan. Dengan mengangkat tema “Protect Your Data, Protect Your Future” dan “The Creator Economy Playbook for Brands”, kedua topik itu dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta yang dikenal dengan Shepreneur.

Atika menambahkan, para peserta Sequis Shepreneur didorong untuk memahami perlindungan data sebagai bagian dari praktik usaha. Tujuannya untuk menjaga keamanan finansial, membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan serta menjaga reputasi usaha dalam era digital.

Untuk membantu meminimalkan risiko penyalahgunaan data, kata Atika, pelaku usaha dapat menerapkan kebiasaan sederhana seperti menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan verifikasi 2 langkah. Kemudian, memastikan keamanan situs sebelum memasukan data, menghindari transaksi perbankan melalui wifi publik, serta memperbarui aplikasi dan perangkat lunak secara rutin.

Apabila terjadi insiden keamanan data, kata Atika, pelaku usaha dapat segera mengambil langkah mitigasi sesuai dengan jenis insiden yang dialami. Selanjutnya, mendokumentasikan bukti, melakukan pemulihan akses, dan melaporkan kejadian kepada pihak berwenang.

Baca Juga :   Penyaluran BLT BBM Tidak Tepat Sasaran, Begini Saran dari Anggota Banggar DPR

Selain memahami pentingnya melindungi aset digital, entrepreneur professional consultant Trisnia Anchali Kardia mengatakan, ekonomi kreator telah berkembang menjadi salah satu ekosistem ekonomi baru yang membuka peluang besar. Semisal, pelaku usaha memiliki peluang untuk membangun visibilitas merek, meningkatkan kepercayaan pelanggan, hingga mendorong pertumbuhan penjualan melalui kolaborasi dengan para kreator lainnya.

Creator economy bukan sekadar bekerja sama dengan kreator yang memiliki banyak pengikut. Hal penting adalah memilih kreator dengan audiens yang relevan dengan tingkat engagement yang baik sehingga kolaborasi mampu menghasilkan dampak nyata bagi bisnis,” ujar Anchali.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics