Perkosmi Nilai Pasar Industri Kosmetik Indonesia Akan Terus Berkembang, Ini Alasannya
Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi) menilai industri kosmetik dalam negeri berpotensi menjadi lebih besar dan terus berkembang. Buktinya data Kementerian Perindustrian menunjukkan nilai pasar industri kosmetik Indonesia mencapai sekitar US$ 9,74 miliar pada 2025.
Ketua Umum Perkosmi Sancoyo Antarikso mengatakan, kosmetik telah menjadi bagian esensial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2022, kosmetik mencakup bahan yang digunakan pada bagian luar tubuh, termasuk kulit, rambut, kuku, bibir, gigi, dan mukosa mulut.
Dengan cakupan itu, lanjut Sancoyo, industri kosmetik meliputi beberapa kategori mulai dari perawatan kulit, makeup, hingga fragrance, deodorant, dan pasta gigi.
“Data yang kita lihat menunjukkan industri ini memiliki skala dan fondasi pertumbuhan yang kuat. Bagi Perkosmi, yang perlu kita jaga bukan hanya pertumbuhan pasar, tetapi juga ekosistem yang semakin sehat, kompetitif, dan terpercaya,” kata Sancoyo dalam acara diskusi di Rumah Wijaya, Jakarta, Selasa (1/9).
Menjelang 50 tahun perjalanan organisasi, kata Sancoyo, Perkosmi terus memperkuat perannya sebagai mitra pemerintah, wadah kolaborasi industri, dan penghubung ekosistem dari hulu hingga hilir.
Sejak berdiri pada 1977, kata Sancoyo, Perkosmi telah menyatukan pelaku industri, dan membangun hubungan dengan regulator. Perkosmi juga berperan dalam pengembangan industri di tingkat regional melalui Asean Cosmetic Association, dan harmonisasi regulasi kosmetik Asean.
Selain itu, kata Sancoyo, Perkosmi pun membangun ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan melalui Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) sejak 2006.
“Perkosmi akan terus memperkuat kolaborasi antara industri, pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat untuk membangun industri kosmetik Indonesia yang semakin terpercaya, inovatif, kompetitif, dan berkelanjutan, building the future together,” ujar Sancoyo.
Sementara itu, Beauty Lead World Panel Ratu Zahra menambahkan, dari data Worldpanel, pasar kecantikan Indonesia tumbuh 12% pada 2025, dan kembali mencapai 13% pada 2026. Pertumbuhan tersebut karena konsumen yang membeli lebih banyak produk, semakin bersedia membayar untuk produk premium, dan memperluas pembelian produk.
Masih merujuk data tersebut, kata Ratu, sebanyak 56% Gen Z membeli produk kecantikan secara daring. Kemudian, 6 dari 10 merek teratas di kanal belanja daring merupakan merek lokal. Sementara di kanal luring, hanya 4 dari 10 merek yang lokal.
“Pada saat yang sama, perjalanan konsumen semakin omnichannel, yang artinya membeli dari berbagai macam toko, baik offline maupun online. Sementara itu, kanal online semakin penting sebagai tempat menemukan produk dan merek baru,” ujar Ratu.