Celios Beberkan Kejanggalan Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Kuartal III/2026
Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Celios
Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47% pada Kuartal III/2026 janggal. Ada beberapa indikator yang tidak mencerminkan pertumbuhan pada 9 bulan pertama di 2026, yang diumumkan pemerintah.
Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda mengatakan, indikator pertama yang menjadi kejanggalan adalah konsumsi rumah tangga di Kuartal III/2026 yang mengalami perlambatan dibandingkan Kuartal II/2026. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga Kuartal II l/2026 sebesar 5,06%, sedangkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga Kuartal III/2026 sebesar 5,04%.
“Memang dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga Triwulan III/2025, angka saat ini lebih tinggi, namun pada saat itu pertumbuhan ekonomi juga melambat dari 5,12% (Triwulan II/2025) menjadi 5,04% (Triwulan III/2025),” kata Nailul dalam keterangan resminya pada Jumat (6/11).
Nailul menambahkan, mesin pertumbuhan ekonomi lainnya juga mengalami perlambatan. Misalnya, pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) melambat dari 6,87% pada Kuartal II/2026, menjadi 6,06% Kuartal III/2026. Sumbernya pun melambat, yang tercermin dari PMTB kendaraan dari 26,03% menjadi 12,96%. Konsumsi pemerintah juga menurun dari 15,97% menjadi 8,95% pada Kuartal III/2026.
Padahal, kata Nailul, pemerintah kerap mengklaim konsumsi pemerintah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I dan II/2026, di mana keduanya memang tumbuh masing-masing sebesar 21,81% dan 15,97%.
“Sayangnya, di triwulan III memang sudah kehabisan bensin (APBN) yang membuat perlambatan pengeluaran pemerintah. Pengeluaran pemerintah dan PMTB berkontribusi sebesar 37% terhadap PDB. Artinya, sekitar 87% lebih komponen PDB melambat, tapi pertumbuhan ekonomi justru lebih tinggi,” ujar Nailul.
Meski demikian, kata Nailul, ada faktor dorongan dari industri pengolahan yang tumbuh sebesar 5,87%. Hal tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Nailul menyebutkan, salah satu yang berkontribusi yakni industri makanan dan minuman yang meningkat sebesar 7,09%, dengan kontribusi mencapai 7,23%.
Selanjutnya, kata Nailul, sektor pertanian mengalami kontraksi, dan menunjukkan kondisi berbeda dari kinerja pada kuartal sebelumnya. Sumbangan sektor pertanian kepada PDB juga tidak sedikit, hampir menyentuh 100%.
Dengan kata lain, kata Nailul, apabila sektor pertanian mengalami kontraksi, maka perlu dipertanyakan angka pertumbuhan ekonomi secara nasional yang jauh lebih tinggi dari periode sebelumnya.
“Pada akhirnya, validitas data sangat penting dalam analisis kondisi yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Apabila data diubah sesuai dengan keinginan presiden saja, itu sebuah kemunduran bagi negara,” ujar Nailul.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47% secara tahunan (yoy) pada Kuartal III/2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan konsensus ekonom sebesar 5,18% dan meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Kuartal II/2026 yang sebesar 5,29%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud menyampaikan, berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB), ekonomi Indonesia pada Kuartal III/2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.741 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp 3.633,2 triliun.
Secara kuartalan (QtQ), ekonomi Indonesia tumbuh 1,59% dibandingkan Kuartal II/2026. Dengan demikian, secara kumulatif hingga Kuartal III/2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45%.