Ekonomi Digital Pedesaan Tak Bisa Berdiri Sendiri dan Butuh Infrastruktur
Tangkapan layar YouTube, Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam (SDA) Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi/Iconomics
Ekonomi digital jika dihubungkan dengan area pedesaan berkaitan dengan produk-produk yang berorientasi kebutuhan konsumen. Karena itu, ekonomi digital dalam konteks perekonomian desa tidak bisa berdiri sendiri dan membutuhkan ketersediaan infrastruktur.
Menurut Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam (SDA) Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi, produk-produk pedesaan itu membutuhkan mobilitas karena sifatnya berwujud. Karena itu, sebelum memasuki perekonomian digital, maka produknya memerlukan persiapan dari sisi kualitas, kemasan, logitik dan lain sebagainya.
“Di sini kan lebih menyangkut pada barang-barang yang sifatnya berwujud. Dukungan infrastruktur harus agar paralel atau harmonis dengan ekonomi digital,” tutur Edi dalam sebuah diskusi virtual beberapa waktu lalu.
Kualitas produk yang berorientasi terhadap kebutuhan konsumen, kata Edi, terkait dengan keinginan untuk membeli. Karena itu, konsumen tidak hanya melihat dari nilai produknya tetapi juga dengan kualitas layanan pengirimannya. Semisal, konsumen di sebuah kota ketika membutuhkan sayur kubis bisa sampai pada waktunya dan produknya masih sesuai dengan yang dipesan.
Digitalisasi, kata Edi, disinggung dengan sebuah strategi. Karena itu, perlu ditanyakan apakah produk masyarakat desa itu sudah sesuai untuk dilakukan digitalisasi dalam konteks pemasaran sehingga bisa menjadi media? Untuk menjawabnya, perlu ditekankan apakah produk masyarakat desa tersebut sudah memenuhi kebutuhan konsumen.
Lalu, kata Edi, dengan digitalisasi semua kegiatan dapat dilakukan dengan mudah. Jika dihubungkan dengan produk masyarakat desa tadi, maka konsumen bisa mendapatkannya tanpa usaha yang sulit.
“Misalnya, pesan buah dari satu desa hari ini pesan, besok sampai dan barangnya bagus semua. Tapi, disebut literasi teknologi digital masih rendah di desa. Bisa saja manfaat teknologi digital belum memberi mnafaat sehingga belum digunakan secara masif. Artinya digitalisasi tidak bisa berdiri sendiri karena akan berhubungan dengan ketersediaan infrastruktur,” kata Edi.