Kemendag: Ekspor Nasional Turun Secara Bulanan tapi Naik Secara Tahunan

0
343

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut total ekspor nasional menurun 10,99% atau sekitar US$ 24,80 miliar secara bulanan pada September 2022. Penurunan ini terjadi karena mengikuti pola bulanan yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan, penurunan ekspor tersebut meliputi non-migas sebesar 10,31% secara bulanan dan ekspor migas 21,41% secara bulanan. Meski demikian, bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2021, angka ekspor pada September 2022 justru naik sekitar 20,28% secara tahunan (yoy).

“Peningkatan ekspor didorong adanya kenaikan signifikan pada ekspor migas sebesar 41,80% dan ekspor non-migas sebesar 19,26% secara yoy,” kata Zulkifli dalam keterangannya, Rabu (19/10).

Di samping itu, kata Zulkifli, penurunan nilai ekspor secara bulanan tersebut juga karena menurunnya permintaan dan harga komoditas di pasar global. Juga penurunan ekspor produk unggulan dalam negeri.

Menurut Zulkifli, beberapa produk utama ekspor non-migas yang mengalami kontraksi meliputi lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) yang turun 31,91%; tembaga dan barang daripadanya (HS 74) turun 31,05%; pakaian dan aksesorisnya atau rajutan (HS 61) turun 30,75%; timah dan barang daripadanya (HS 80) turun 25,33%; pakaian dan aksesorisnya atau bukan rajutan (HS 62) turun 18,18%.

Baca Juga :   Waskita Beton Kirim Spun Pile ke Myanmar

Kemudian, produk utama ekspor non-migas yang mengalami peningkatan tertinggi pada September 2022 yaitu bijih logam, terak, dan abu (HS 26) naik 29,07%; kendaraan dan bagiannya (HS 87) naik 4,79%; pulp dari kayu (HS 47) naik 3,84%; ampas/sisa industri makanan (HS 23) naik 2,23%; dan plastik dan barang dari plastik (HS 39) naik 1,37%.

“Angka ekspor kendaraan dan bagiannya (HS 87) di September 2022 merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Adapun negara utama yang menjadi tujuan ekspor kendaraan dan bagiannya adalah Filipina, Vietnam dan Thailand. Potensi ekspor Kendaraan dan Bagiannya dapat dijadikan sumber utama penguatan ekspor di saat menurunnya harga komoditas dan transformasi ekspor ke sektor manufaktur,” ujar Zulkifli.

Dari sisi negara, kata Zulkifli, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang, masih mendominasi pasar utama ekspor non-migas Indonesia dengan nilai sebesar US$ 10,37 miliar, atau berkontribusi 44,17% terhadap ekspor non-migas nasional.

Beberapa pasar utama tujuan ekspor non-migas Indonesia yang tercatat mengalami pertumbuhan tertinggi pada September 2022 yakni Bangladesh naik 39,22%, Polandia naik 30,83%, Spanyol naik 20%, Jerman naik 15,86%, dan Filipina naik 5,50%.

Baca Juga :   Harga Emas Batangan Hari Ini

Secara keseluruhan, kata Zulkifli, ekspor nasional periode Januari hingga September 2022 tercatat mencapai US$ 219,35 miliar atau naik sebesar 33,49% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut karena menguatnya ekspor non-migas yang naik sebesar 33,21% secara yoy menjadi US$ 207,19 miliar, dan ekspor migas yang naik 38,56% secara yoy atau 12,16 miliar.

“Kementerian Perdagangan optimis untuk terus mendorong peningkatan ekspor pada tiga bulan terakhir sehingga ekspor nonmigas tahun ini diharapkan dapat mencatat rekor tertinggi,” tuturnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics