April 2022, Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Surplus

0
474

Neraca perdagangan Indonesia kembali tercatat surplus pada April 2022, karena nilai ekspor yang lebih tinggi dibanding impor. Secara kumulatif, Januari-April 2022, neraca perdagangan Indonesia juga surplus.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pada bulan April 2022 mencapai US$27,32 miliar naik 3,11% dibanding nilai ekspor Maret 2022 dan naik 47,76% dibanding April 2022 (year on year).

Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-April mencapai US$93,47 miliar naik 38,68% year on yar.

Sedangkan, nilai impor pada April 2022 sebesar US$19,76 miliar, turun 10,01% dibanding nilai impor Maret 2022, tetapi naik sebesar 21,97% dibanding April 2021. Secara kumulatif, nilai impor Januari-April 2022 sebesar US$76,58 miliar, naik 28,51% year on year.

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia pada April 2022 mengalami surplus sebesar US%7,56 miliar. “Kalau ditarik ke belakang, surplus ini beruntun selama 24 bulan,” ujar Kepala BPS, Margo Yuwono dalam konferensi pers, Selasa (17/5).

Margo menjelaskan komoditas non migas penyumbang surplus terbesar pada April 2022 ini berasal dari lemak dan minyak hewan/nabati (HS-15), diikuti bahan bakar mineral (HS27).

Baca Juga :   Neraca Perdagangan Surplus Hingga Oktober 2022, Kepala BKF Beberkan Upaya Pemerintah ke Depan

Neraca perdagagan Indonesia mengalami surplus dengan sejumlah negara. Tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah perdagangan dengan Amerika Serikat, India dan Filipina.

Dengan Amerika Serikat, perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$1,62 miliar, India sebesar US$1,53 miliar dan Filipina sebesar US$977,9 juta.

Komoditas penyebab surplus dengan Amerika serikat utamanya berasal dari pakaian dan aksesorisnya atau rajutan (HS61), diikuti alas kaki (HS64). Komoditas penyumbang surplus perdagangan dengan India diantaranya adalah bahan bakar mineral (HS27), dikuti lemak dan minyak hewan/nabati (HS15). Sedangkan surplus dengan Filipina terutama berasal dari komoditas bahan bakar mineral (HS27) diikuti kendaraan dan bagiannya (HS87).

Indonesia juga mengalami defisit dengan sejumlah negara diantaranya tiga yang terbesar adalah Argentina (US$-320,2 juta), Australia (US$-283,5 juta) dan Thailand (US$-217,9 juta).

Defisit dengan Argentina terutama karena Indonesia mengimpor serelia (HS10) dan ampas dan sisa industri makanan (HS23). Defisit dengan Austrlia terutama disumbangkan oleh komoditas bahan bakar mineral (HS27) dan serelia (HS10). Defisit dengan Thailand terutama karena impor plastik dan barang dari plastik (HS39) dan impor gula dan kembang gula (HS17).

Baca Juga :   Neraca Perdagangan Tahun 2022 Surplus US$54,46 Miliar, Naik 53,71%

Margo mengatakan secara kumulatif, dari Januari hingga April neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar US$16,89 miliar.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics