GMF AeroAsia Canangkan 3 Program Utama di Tahun 2023
Tangkapan layar, Public Expose GMF AeroAsia
PT GMF AeroAsia Tbk menyampaikan perusahaan terus menggenjot kinerja bisnis. Direktur Utama GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi menjelaskan bahwa revenue hingga November 2022 ini sudah membaik dibandingkan tahun 2021. EBITDA (earning before interest, taxes, depreciation & amortization) pada November 2022 sudah positif. GMF juga menyampaikan rugi bersih, dan rugi usaha juga sudah menurun dibandingkan tahun 2021.
GMF mencatat Rugi Usaha per 30 September 2022 sebesar US$6,8 juta, sedangkan pada periode yang sama tahun 2021 tercatat Rugi Usaha sebesar US$27,7 juta. Rugi Usaha tersebut turun 75,3%. Rugi Bersih perusahaan juga mengalami penurunan dari US$38,9 juta per 30 September 2021 menjadi US$17,8 juta per 30 September 2021.
Adapun Pendapatan perseroan mengalami penurunan per 30 September 2022 menjadi US$150,5 juta, sedangkan per 30 September 2021 sebesar US$165,4 juta.
Direktur Keuangan GMF AeroAsia Salusra Satria menjelaskan meskipun terdapat beberapa yang mengalami penurunan. Namun, saat ini, Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) sudah mulai terlihat pergerakannya.
“Pada keuangan Q3-2022 (kuartal III) ini memang dibanding Desember ada penurunan-penurunan tetapi boleh dikatakan bahwa ini adalah persiapan kita untuk ke depan. Sekarang mulai bergerak penerbangannya, tentu saja MRO-nya. Nah untuk pergerakan MRO yang mulai bergerak ini, kita sudah mulai mengalami sekarang di bulan Desember,” jelas Satria pada Jumat, (30/12/2022).
GMF AeroAsia sedang mempersiapkan bangkitnya kembali kinerja keuangan, mengingat saat ini industri penerbangan juga telah mulai beroperasional normal.
“Saat ini airlines di berbagai negara termasuk Indonesia yang selama ini terdampak signifikan, setelah melewati dua tahun pandemi ini mulai bergeliat kembali dengan banyaknya reaktivasi pesawat. Walaupun secara proyeksi masih belum kembali seperti tahun 2019 tapi angkanya sudah mulai bergerak ke atas dan diharapkan 2 tahun ke depan 2024 sudah kembali sama dengan sebelum pandemi,” kata Andi.
“Saat ini ada 3 hal yang kita programkan ke depan yang menjadi strategi utama kita yaitu peningkatan profitability, restrukturisasi hutang yang kita sudah disepakati dengan perbankan maupun para kreditor. Ketiga, kita akan melakukan beberapa improvement untuk menaikkan likuiditas,” jelas Andi.
Ia mengatakan target pendapatan di tahun depan masih dalam proses pengesahan dengan dewan komisaris. Namun di pengajuan awal, GMF menargetkan pendapatan sebesar US$320 juta dengan net profit di atas US$7 juta.
“Itu masih kita terus optimalkan angka-angka ini dan bisa kita stretching ke atas tapi minimal net profit kita akan positif di US$7 juta di target awal tahun depan,” tambahnya.