Harga Emas Masih Tertekan, Turun ke Posisi US$3.265 per Troy Once
Ilustrasi emas batangan/Dok. Dupoin Futures Indonesia
Harga emas (XAU/USD) mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan sesi Asia hari Senin, 30 Juni 2025. Logam mulia ini merosot hingga ke area sekitar US$3.265 per troy ounce.
Menurut Analis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, situasi pasar global saat ini memang kurang mendukung pergerakan emas. Ia mengatakan beberapa faktor eksternal seperti meredanya ketegangan geopolitik dan tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi penyebab utama berkurangnya daya tarik emas di mata investor.
Salah satu pemicu utama membaiknya sentimen pasar adalah perjanjian dagang yang diumumkan pekan lalu, di mana AS dan China sepakat mempercepat pengiriman tanah jarang ke Amerika. Kabar ini disambut positif oleh pelaku pasar global, mendorong peralihan investasi dari aset aman seperti emas ke instrumen yang lebih berisiko seperti saham. Selain itu, tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel juga turut menenangkan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Dari sudut pandang teknikal, Andy menyampaikan bahwa formasi candlestick harian dan indikator Moving Average masih menunjukkan kecenderungan bearish yang cukup kuat untuk XAU/USD.
“Selama harga tetap berada di bawah level psikologis penting di US$3.300 per troy ounce, potensi tekanan jual masih sangat besar,” katanya dalam keterangannya. Jika tekanan ini berlanjut, level support terdekat yang patut dicermati berada di sekitar US$3.262 per troy ounce.
Meski demikian, peluang koreksi naik tetap ada selama harga mampu bertahan di atas area support tersebut. “Jika terjadi rebound, maka level US$3.300 menjadi target realistis untuk diuji dalam waktu dekat,” kata Andy.
Selain perkembangan geopolitik dan teknikal, pelaku pasar juga tengah menunggu arah kebijakan moneter AS. Fokus utama tertuju pada pidato sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Harapan terhadap pemangkasan suku bunga AS tahun ini masih menjadi sentimen penyeimbang bagi emas.
Andy tetap mengingatkan bahwa tekanan jual pada emas masih cukup dominan, seiring membaiknya sentimen global. Menurutnya, selama belum muncul ketegangan geopolitik baru atau pernyataan dovish yang kuat dari pejabat The Fed, harga emas berisiko tetap bergerak di bawah tekanan.