Emas Dikoleksi, Harga Emas Masih Tunjukkan Tren Bullish

0
62

Harga emas masih terus menanjak. Harga emas (XAU/USD) mencatat penguatan selama dua hari berturut-turut hingga Selasa (22/07/2025). Penguatan disinyalir karena pelemahan Dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Analis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha menjelaskan bahwa lonjakan harga emas ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset-aset safe-haven, terutama di tengah ketegangan geopolitik serta ketidakpastian arah kebijakan moneter dari Federal Reserve. Menurutnya, saat laporan ini disusun pada Rabu (23/07/2025), harga emas diperdagangkan di area US$3.427, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah harian di US$3.383 sebelum akhirnya berbalik naik.

Secara teknikal, analisis candlestick dan indikator Moving Average (MA) menunjukkan bahwa tren naik (bullish) pada XAU/USD masih terjaga dengan kuat. Pola pergerakan harga yang konsisten membentuk higher high dan higher low mengindikasikan potensi kelanjutan tren positif. Bila tekanan beli tetap dominan, emas berpeluang menguji level resistance terdekat di US$3.436. Namun, bila terjadi koreksi harga, kemungkinan besar emas akan mengarah ke support di kisaran US$3.406, sebelum kembali bergerak dalam fase konsolidasi jangka pendek.

Baca Juga :   Demi Investasi dan Bisnis, Pemerintah Permudah Pendirian Badan Usaha

Ada sisi lainnya yang memperkuat optimisme terhadap harga emas. Ketidakpastian seputar negosiasi dagang antara Uni Eropa dan Amerika Serikat yang mendekati batas akhir pembicaraan telah meningkatkan keresahan pelaku pasar global.

Kondisi internal di Amerika Serikat pun turut menambah ketidakpastian. Fokus pasar tertuju pada independensi Federal Reserve. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyerukan evaluasi terhadap fungsi non-moneter The Fed, termasuk meningkatnya biaya operasional dan potensi penyimpangan dari mandat awal bank sentral tersebut. Kekhawatiran itu diperkuat dengan pernyataan kontroversial dari Presiden Donald Trump, yang kembali melontarkan kritik keras terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, dan menyiratkan kemungkinan adanya pergantian kepemimpinan.

Demikian juga pasar obligasi turut memberikan sinyal yang mendukung penguatan emas. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun tercatat turun lebih dari lima basis poin menjadi 4,332%, sedangkan imbal hasil riil turun ke level 1,932%. Kondisi ini berdampak negatif pada nilai tukar Dolar AS secara keseluruhan, dengan indeks Dolar (DXY) melemah 0,44% ke posisi 97,43. Pelemahan ini semakin meningkatkan daya tarik emas sebagai alternatif investasi.

Baca Juga :   Emban Tugas Kelola Kekayaan Negara Dipisahkan, Apakah BPI Danantara Cikal Bakal Superholding BUMN?

Meski emas menunjukkan tren bullish, Andy mengingatkan bahwa potensi pembalikan arah tetap terbuka, terutama jika terjadi perubahan mendadak pada sentimen pasar atau muncul kabar positif terkait perkembangan perdagangan global.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics