Krakatau Steel Optimistis Bangkit, Meski Masih Dibebani Utang USD 1,7 Miliar

0
85

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Muhamad Akbar, menyampaikan bahwa sebagai satu-satunya BUMN di industri baja, perusahaan memiliki peran penting dalam mendukung program strategis pemerintah.

Menurutnya, potensi serapan produk Krakatau Steel dan Group dari berbagai proyek pemerintah mencapai sekitar Rp410 triliun dalam sepuluh tahun ke depan.

“Potensi Rp400 triliun ini menjadi harapan bagi kami untuk selalu mengejar efisiensi dan produktivitas,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (30/9).

Namun demikian, Akbar mengakui beban utang perseroan masih cukup besar, yakni sekitar USD 1,7 miliar. Dari jumlah itu, sebesar USD 1,4 miliar merupakan pokok utang, sementara sisanya sekitar USD 338 juta berupa bunga. Kondisi tersebut membuat Krakatau Steel masih berstatus Kolektibilitas 2 (K2) atau dalam perhatian khusus sehingga belum memiliki akses modal kerja dari perbankan.

Direktur Keuangan Krakatau Steel, Daniel Fitzgerald Liman, menambahkan bahwa total pinjaman perusahaan tersebar di bank pemerintah sekitar Rp12 triliun, sedangkan sisanya di bank swasta. Meski demikian, proses restrukturisasi mulai menunjukkan kemajuan.

Baca Juga :   Strategi Krakatau Steel Saat Dihadapkan dengan Tarif Impor yang Dicetuskan Donald Trump

“Tapi sebenarnya secara progres, dalam beberapa bulan terakhir sudah cukup lancar. Jadi, kita sudah mencapai suatu kesepakatan yang mungkin akan diselesaikan dalam waktu singkat,” ujar Daniel.

Daniel menjelaskan, sepanjang 2024 Krakatau Steel mencatat kerugian sebesar USD 158 juta, yang sebagian besar disebabkan oleh tingginya beban keuangan. Namun, perseroan optimistis kondisi keuangan dapat berbalik pada 2025. Negosiasi dengan bank pemerintah dan swasta membuka peluang adanya skema haircut dari beberapa kreditur swasta.

Selain itu, perseroan juga tengah menyiapkan skema pinjaman pemegang saham melalui Danantara sejak Juni 2025. Dana segar tersebut diharapkan cair sebelum Desember 2025 untuk memperkuat modal kerja.

“Sehingga pada tahun depan kita bisa meningkatkan produktivitas pabrik. Target kami adalah produksi 120.000 ton per bulan atau sekitar 1,3 juta ton per tahun,” ujarnya.

Peningkatan produksi ini, tambah Daniel, diharapkan meningkatkan pendapatan perusahaan secara signifikan pada 2026.

“Hasil dari peningkatan pendapatan dan modal kerja ini, kami mengestimasikan bahwa Krakatau Steel akan tumbuh berkelanjutan, dengan laba bersih perusahaan bertahan di angka sekitar Rp1,5–1,6 triliun per tahun mulai 2026 dan seterusnya,” ujar Daniel.

Baca Juga :   BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham Krakatau Steel (Persero) Tbk, Ada Apa?

Perseroan juga berupaya meningkatkan margin EBITDA dari 0,7% pada 2025 menjadi 7,6% pada 2028, dengan lonjakan signifikan mulai 2026 sebesar 6,3%.

Namun, proyeksi ini, kata Daniel, akan dievaluasi kembali apabila kondisi pasar baja nasional masih terus dibanjiri produk impor.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics