Kuartal III-2025, Laba Bersih BNI Turun 7,3% Menjadi Rp15,12 Triliun

0
98

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menutup kuartal III 2025 dengan kinerja keuangan yang tetap solid meski mencatat penurunan laba bersih. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada entitas induk tercatat sebesar Rp15,12 triliun hingga akhir September 2025, turun 7,3% year-on-year (YoY) dibanding Rp16,31 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, penguatan fundamental, efisiensi pendanaan, dan transformasi digital yang semakin matang menjadi pilar utama ketahanan dan pertumbuhan berkelanjutan perseroan di tengah dinamika ekonomi global.

“Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan BNI untuk tetap adaptif menghadapi tantangan, sambil terus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangan tertulis.

Meski laba bersih tertekan, BNI mencatat posisi permodalan yang kokoh dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 21,1%, termasuk Tier-1 Capital yang tetap kuat. Likuiditas juga berada di level aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1%.

Baca Juga :   Optimalkan Jaringan KCLN, BNI Optimistis Bisnis Internasional Tumbuh Positif

Kualitas aset pun tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada di kisaran 2,0%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4%, mencerminkan keberhasilan BNI menjaga kualitas aset melalui penerapan manajemen risiko yang kuat dan strategi ekspansi bisnis yang sehat dan prudent.

Direktur Finance & Strategy Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, hingga akhir September 2025, total kredit yang disalurkan tumbuh 10,5% YoY menjadi Rp812,2 triliun, dengan pertumbuhan merata di seluruh segmen bisnis.

Kredit korporasi naik 12,4% YoY menjadi Rp450,7 triliun, kredit menengah tumbuh 14,3% YoY, dan kredit UMKM non-KUR meningkat 13,9% YoY menjadi Rp46,3 triliun. Sementara segmen konsumer tumbuh 9,6% YoY menjadi Rp150,2 triliun, didukung pembiayaan KPR, personal loan, dan kartu kredit.

Untuk menjaga ketahanan keuangan, BNI memperkuat cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang mencapai Rp34,7 triliun, dengan NPL coverage ratio sebesar 222,7%.

“Kami terus memperkuat kualitas portofolio kredit dan menerapkan risk-based provisioning untuk memastikan ketahanan jangka panjang,” kata Paolo.

Baca Juga :   BNI Buka Layanan Operasional Terbatas Selama Libur Lebaran dan Nyepi, Simak Rinciannya

Direktur Treasury & International Banking Abu Santosa Sudradjat menuturkan, digitalisasi menjadi penggerak utama pertumbuhan dana murah dan pendapatan nonbunga. Dana Pihak Ketiga (DPK) BNI naik 21,4% YoY menjadi Rp934,3 triliun, dengan CASA meningkat 13,3% YoY menjadi Rp613,4 triliun.

Peningkatan ini memperkuat struktur pendanaan dan menekan biaya dana (cost of fund), menjaga profitabilitas tetap sehat di tengah tekanan margin. Fee-based income juga tumbuh 11% YoY, berkontribusi sekitar 30% terhadap total pendapatan nonbunga perseroan.

Pertumbuhan tersebut ditopang kanal digital seperti aplikasi wondr by BNI, yang mencatat lonjakan pengguna dari 2,8 juta pada September 2024 menjadi 10,5 juta per September 2025, dengan nilai transaksi Rp783 triliun. Kanal BNIdirect untuk korporasi juga mencatat nilai transaksi Rp8.080 triliun, tumbuh 26,7% YoY.

Leave a reply

Iconomics