Abipraya Fokus Kembali ke Bisnis Inti, Bidik Kontrak Baru Rp11,8 Triliun pada 2026
Direktur Utama PT Brantas Abipraya (Persero), Sugeng Rochadi.
PT Brantas Abipraya (Persero) menargetkan pertumbuhan kinerja yang lebih agresif pada 2026, seiring mulai normalnya kembali proses lelang proyek-proyek pemerintah di awal tahun.
Direktur Utama PT Brantas Abipraya (Persero), Sugeng Rochadi, menyampaikan bahwa fokus utama perusahaan tahun depan adalah penguatan bisnis inti konstruksi, peningkatan efisiensi, serta penataan entitas usaha mengikuti arah kebijakan Danantara.
Sugeng menyampaikan kontrak baru yang diperoleh perusahaan telah mencapai Rp2,1 triliun dan produksi sebesar Rp2,7 triliun dengan laba Rp27 miliar.
“Kita harapkan beberapa proyek strategis nasional yang dimulai di triwulan keempat dapat mendorong pencapaian tahun ini,” kata Sugeng dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Senin (17/11).
Abipraya menargetkan total nilai kontrak hingga akhir 2025 mencapai Rp20,9 triliun, dengan Rp10,6 triliun berasal dari kontrak baru. Produksi diharapkan berada di level Rp8,4 triliun dan laba bersih Rp102 miliar.
Sugeng menyampaikan, untuk 2026, Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang masih menunggu persetujuan memproyeksikan kontrak baru sebesar Rp11,8 triliun dan laba mencapai Rp155,43 miliar. “Ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan dari tahun 2005 ke 2026 mencapai sekitar 25 persen growth,” kata Sugeng.
Momentum percepatan lelang proyek pemerintah di awal tahun diyakini akan memperkuat peluang pencapaian tersebut. “Mudah-mudahan di awal tahun 2026 ini ada tanda-tanda bahwa proses bidding-nya juga akan dilakukan lebih awal sehingga program ini bisa kita optimalkan lebih maksimal,” ujarnya.
Strategi Abipraya pada 2026 mencakup pengembalian fokus ke bisnis konstruksi sebagai core business, efisiensi proses konstruksi berbasis teknologi, penguatan kas dan aset likuid, serta sinergi dalam klaster BUMN.
Abipraya juga tengah mempersiapkan diri menghadapi agenda integrasi BUMN konstruksi yang menjadi isu strategis dalam beberapa bulan terakhir. “Kami sudah melakukan proses integrasi ini, dengan konsultan tentunya, dan ini masih dalam kajian,” kata Sugeng.
Ia menjelaskan dua poin utama: pertama, tanggung jawab Abipraya sebagai mitra Danantara dalam menyiapkan integrasi; kedua, penataan ulang anak dan cucu usaha sesuai arahan pemerintah. “Kita juga melakukan penataan ulang terhadap anak dan cucu perusahaan yang diharapkan tahun depan akan selesai. Jadi kita akan menggabungkan beberapa cucu menjadi satu areal yang lebih ekonomis,” ujarnya.