RKAP 2026 Nindya Karya Dinilai Ambisius: ‘Ini Beneran atau Hanya Kosmetik?’

0
247

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Nindya Karya mematok target kinerja keuangan yang tumbuh signifikan pada 2026. Namun, anggota Komisi VI DPR RI meragukan target tersebut, apalagiĀ  tidak disertai strategi yang jelas untuk mencapainya.

Direktur Utama PT Nindya Karya, Firmansyah, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Senin (17/11) memaparkan pencapaian perusahaan pada 2025 ini serta Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026.

Tahun depan, paparnya, manajemen menargetkan pertumbuhan kontrak baru sebesar 29 persen menjadi Rp33,039 triliun, dari prognosa tahun 2025 sebesar Rp25,665 triliun.

Pendapatan usaha 2026 ditargetkan tumbuh 18 persen menjadi Rp11,801 triliun, sedangkan laba bersih dipatok meningkat 87 persen menjadi Rp225 miliar.

Tahun depan, Nindya Karya memproyeksikan pengembangan bisnis baru melalui sejumlah proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) di Ibu Kota Nusantara (IKN), mulai dari pembangunan delapan tower hunian ASN hingga proyek Multi-Utility Tunnel (MUT). Firmansyah menyebut beberapa proyek sudah memperoleh surat penetapan pemrakarsa dan konfirmasi availability payment (AP) dari Kementerian Keuangan.

Baca Juga :   Tahap 1 Ada 10 BUMN Lintas Sektor Masuk ke Holding Danareksa

Firmansyah menyampaikan dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan kontrak baru dengan compound annual growth rate (CAGR) 23,08 persen. Pada semester pertama 2025 ini, sambungnya, kontrak baru yang diperoleh sebesar Rp2,167 triliun.

ā€œKita prognosakan di semester keduanya yaitu Rp13,37 triliun. Jadi, prognosa tahun 2025 insya Allah kita rencanakan dapat perolehan proyek sebesar Rp15,539 triliun,ā€ ujar Firmansyah.

Untuk pendapatan usaha, Nindya Karya mencatat CAGR 11,71 persen. Pendapatan usaha semester pertama 2025 sebesar Rp2,8 triliun. Pada semester kedua 2025, sambung Firmansyah, diprognosakan sebesar Rp7,2 triliun. Dus, pendapatan usaha sepanjang 2025 ditargetkan sebesar Rp10,022 triliun.

Sementara itu, jelas Firmansyah, gross profit perusahaan tumbuh dengan CAGR 9,32 persen. Pada semester pertama 2026, gross profit tercatat sebesar Rp234 miliar dan pada semester kedua ditargetkan sebesar Rp570 miliar. Sehingga, keseluruhan gross profit tahun 2025 ini diprognosakan sebesar Rp804 miliar.

Selanjutnya, untuk laba bersih, pada semester pertama 2025 baru mencapai Rp17 miliar. Semester kedua ini diproyeksikan Rp103 miliar. Dengan demikian, total laba bersih tahun ini diperkirakan mencapai Rp120 miliar.

Baca Juga :   Petrosea Garap Proyek INPEX Masela Bersama Konsorsium

Ekuitas perusahaan sepanjang 2025 tercatat stagnan di Rp1,7 triliun. ā€œAda penambahan di semester kedua nanti Rp53 miliar, jadi ekuitas Nindya Karya tahun 2025 sebesar Rp 1,757 triliun.ā€

Namun paparan Nindiya Karya ini tidak sepenuhnya meyakinkan anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Darmadi Durianto. Ia menilai sejumlah indikator fundamental perusahaan justru stagnan.

ā€œSorotan saya yang pertama adalah soal ekuitas, yang hanya tumbuh 1,92 persen, CAGR. Itu kan stagnan,ā€ kata Darmadi. Ia membandingkan pertumbuhan ekuitas perusahaan EPC global dan swasta yang mencapai 3–8 persen.

ā€œSaya apresiasi atas kinerja Nindya Karya. Dibanding BUMN karya yang lain, bagus,ā€ ujarnya.

Meski demikian, Darmadi juga menilai laba bersih perusahaan juga terlalu kecil untuk ukuran perusahaan EPC.

ā€œLaba bersih Nindya Karya itu sangat kecil. Hanya 1 persen. Nggak sampai mungkin. Nol koma. Nah, ini sangat kecil untuk perusahaan-perusahaan EPC.ā€

Darmadi juga mempertanyakan target 2026 yang dinilai terlalu agresif. ā€œMemang kalau saya perhatikan RKAP 2026 ini, sangat ambisius. Ini beneran atau hanya kosmetik? RKAP itu labanya naik melonjak 87 persen. Dari Rp120 miliar menjadi Rp225 miliar. Kontrak juga naik 29 persen. Pendapatan juga naik 18 persen.ā€

Baca Juga :   Jasa Marga Caplok Kepemilikan SQIL di Jasamarga Kunciran Cengkareng

Ia meminta manajemen Nindya Karya menjelaskan skenario dasar hingga stress test untuk menunjukkan bahwa target tersebut realistis. ā€œSaya mau tahu skenario stress test-nya,ā€ ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics