Ada Ketidakpastian Akibat Perang, BCA Tak Revisi Rencana Bisnis Tahun Ini
Direktur BCA, Vera Eve Lim.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menegaskan tidak melakukan revisi terhadap Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun 2026, meski perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian akibat dinamika geopolitik, terutama perang di Timur Tengah.
Hingga tiga bulan pertama tahun ini, kinerja perseroan disebut masih berada dalam jalur yang sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
“Terkait dengan proyeksi kinerja BCA, sampai dengan Kuartal I sangat inline dengan RBB kita dan ini masih sembilan bulan ke depan untuk tahun 2026, kita tidak ada perubahan apa-apa (RBB),” ujar Direktur BCA, Vera Eve Lim, menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers kinerja keuangan BCA Kuartal I 2026, Kamis (24/4).
Selama tiga bulan pertama 2026, BCA menjaga pertumbuhan kredit dengan total penyaluran mencapai Rp994 triliun per Maret 2026, meningkat 5,6% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Vera mengatakan perseroan tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit di kisaran 8–10 persen sepanjang 2026.
“Tentunya kita berharap ada perbaikan, perbaikan juga ekonomi dan permintaan kredit untuk sembilan bulan mendatang. Jadi, kita masih melihat tren, rencana kerja itu masih untuk kita teruskan,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi akibat konflik geopolitik yang memanas, terutama di Timur Tengah, Direktur BCA, Subur Tan mengatakan perseroan sudah melakukan stress test, sesuai dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Hasilnya saya rasa masih cukup membesarkan hati,” ujar Subur.
Dari sisi permodalan, Subur menegaskan bahwa posisi modal perseroan masih sangat kuat, berada di kisaran 29 persen. Angka tersebut menunjukkan tingkat kecukupan modal yang jauh di atas ketentuan minimum yang berlaku.
Sementara itu, kualitas aset juga tetap terjaga dengan baik. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat stabil di sekitar 1,8 persen.
Terkait potensi kenaikan NPL ke depan di tengah situasi saat ini, manajemen menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan adanya tekanan yang signifikan. Namun demikian, perseroan menyatakan tetap optimistis dapat menjaga kinerja NPL dan kualitas kredit secara keseluruhan.
“Pada dasarnya kami percaya diri bahwa kami mampu menjaga kinerja NPL atau kinerja kredit kita dengan baik. Ada sedikit peningkatan di Loan at Risk (LaR), tetapi saya rasa masih sangat terkontrol dan cadangannya pun sangat memadai,” ujar Subur.
Menanggapi pertanyaan mengenai dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap debitur BCA, Wakil Presiden Direktur BCA, John Kosasih mengatakan sangat bergantung pada sektor usaha masing-masing. Salah satu sektor yang mulai menunjukkan pengaruh adalah industri plastik, seiring meningkatnya harga bahan baku di pasar.
Manajemen menjelaskan bahwa kenaikan harga material tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam beberapa portofolio kredit terkait.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BCA terus memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan para nasabah. Langkah ini dilakukan untuk memantau secara langsung perkembangan kondisi usaha debitur serta memahami strategi mitigasi yang mereka terapkan dalam menghadapi tekanan biaya produksi.
“Selama ini kalau kita perhatikan, so far masih tetap terjaga dengan baik risikonya, para nasabah ini masih tetap menjalankan usaha dengan baik dan kita akan terus memonitor kondisinya,” ujar John.
Terkait pelemahan rupiah yang saat ini bergerak di kisaran Rp17.300 per dolar AS, John menyampaikan bahwa dampaknya terhadap perseroan relatif terbatas.
Saat ini, portofolio kredit valas BCA tercatat sekitar 4,9 persen dari total portofolio kredit, sehingga eksposurnya dinilai masih kecil dan terjaga dengan baik.
“Jadi apabila terjadi pelemahan rupiah, tentu saja dampaknya pun tidak signifikan. Kalau seandainya mereka adalah eksportir, tentu saja dengan adanya pelemahan rupiah ini malah menguntungkan.
Namun, John menegaskan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp17.300 per dolar AS, pelaku usaha pada dasarnya menginginkan adanya stabilitas. Menurutnya, dunia usaha berharap agar nilai tukar dapat bergerak lebih stabil, karena kepastian kurs dinilai penting dalam menjaga perencanaan dan aktivitas bisnis di lapangan.