Ancaman El Niño Bayangi Harga Pangan, BPS Catat Inflasi September 2026 Sebesar 0,30%
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan ancaman gejolak harga pangan dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan potensi hadirnya fenomena iklim El Niño hingga awal tahun depan.
Pada saat yang sama, penurunan produksi hortikultura hingga penyesuaian harga BBM non-subsidi telah mendorong inflasi nasional sebesar 0,30% pada September 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa dinamika pasokan komoditas pertanian di sentra-sentra produksi menjadi penentu utama pergerakan indikator harga sepanjang bulan lalu.
Penurunan produksi cabai rawit terpantau terjadi di Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang. Kondisi serupa terjadi pada cabai merah di Bandung, Garut, dan Malang. Sebaliknya, panen bawang merah mencatatkan peningkatan produksi di Bima, Probolinggo, dan Malang.
Di sektor peternakan, harga daging ayam ras terkerek akibat tingginya permintaan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah, yang diperberat oleh kenaikan harga pakan ternak.
Sementara di sektor energi, BBM non-subsidi mengalami kenaikan harga signifikan, yakni Pertamax Turbo naik sekitar 7%, Dexlite naik 20%, dan Pertamina Dex melonjak 19%. Tekanan inflasi ini sedikit tertahan oleh penyesuaian tarif angkutan udara yang melandai seiring berakhirnya libur sekolah.
Melihat kondisi pasokan yang sensitif, Ateng memberikan catatan khusus mengenai proyeksi cuaca ekstrem dari BMKG yang berisiko menekan rantai pasok pangan hingga awal 2027.
“BMKG telah merilis prediksi El Niño di tahun 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027. Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga, terutama pada komoditas pangan,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10).
Inflasi September 2026
Laju inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,30% pada September membawa Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,97 pada Agustus menjadi 112,31 pada September 2026. Dengan hasil ini, tingkat inflasi tahunan (year-on-year) berada di level 3,28%, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) tercatat sebesar 2,17%.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan laju 0,88% dan andil 0,26%. Komoditas utama pendorongnya meliputi cabai rawit dengan andil inflasi 0,08%, cabai merah andil inflasi 0,06%, daging ayam ras: andil inflasi 0,05%, beras andil inflasi 0,03%, telur ayam ras andil inflasi 0,02% dan ikan segar & kangkung masing-masing andil 0,01%.
Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,14% (andil 0,01%), yang utamanya didorong oleh penurunan harga emas perhiasan.
Dilihat dari komponennya, seluruh kelompok mengalami inflasi. Komponen harga bergejolak (volatile food) menjadi motor utama dengan inflasi sebesar 1,46% dan menyumbang andil terbesar yakni 0,24%, terdorong oleh komoditas cabai, daging ayam, beras, telur, dan kangkung.
Untuk komponen inti, inflasi tercatat sebesar 0,10% (andil 0,06%) yang terutama dipicu oleh kenaikan biaya kuliah perguruan tinggi. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatatkan inflasi mendekati nol, karena efek kenaikan harga bensin terimbangi oleh deflasi tarif angkutan udara.
Secara geografis, sebanyak 36 provinsi mengalami inflasi dan 2 provinsi mencatat deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 3,53%, sedangkan Nusa Tenggara Timur mengalami deflasi terdalam sebesar 0,35%.