AS Pangkas Tarif untuk Jepang, Tapi Uni Eropa Belum Temui Titik Temu, Bagaimana Harga Emas?
Ilustrasi emas batangan/Dok. Dupoin Futures Indonesia
Pelemahan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) membuat Dolar AS melemah. Alhasil dana mengalir ke aset safe haven seperti emas. Harga emas pagi ini, menurut analis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, harga emas berada di level US$3.427 per ounce, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di US$3.383.
Dari sisi teknikal, grafik XAU/USD memperlihatkan pola candlestick yang didukung indikator Moving Average (MA), dan Dupoin menilai tren bearish masih mendominasi.
“Kalau tekanan jual ini berlanjut, XAU/USD punya potensi turun hingga ke level US$3.363,” kata Andy dalam keterangannya. Namun, jika harga gagal menembus support tersebut dan justru berbalik naik, target kenaikan terdekat ada di kisaran US$3.414.
Ia menyampaikan pergerakan pada Rabu (23/7/2025) sempat membuat emas terkoreksi moderat ketika pasar menimbang dampak kesepakatan dagang AS–Jepang. Pada Kamis (24/7/2025), XAU/USD berada di sekitar US$3.386, turun dari rekor tertingginya karena sentimen risiko sempat membaik. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan besar dengan Jepang, yakni mengurangi tarif timbal balik menjadi 15% dari 25%, investasi Jepang senilai US$550 miliar, dan akses pasar yang lebih luas untuk produk pertanian dan otomotif AS. Kabar ini menenangkan kekhawatiran soal perang dagang untuk sementara.
Meski begitu, fondasi penguatan emas masih solid. Tenggat waktu 1 Agustus untuk negosiasi tarif Uni Eropa (UE)–AS makin dekat, sementara pembicaraan dagang UE dan AS belum menemui titik temu. Jika kesepakatan gagal tercapai, AS bisa mengenakan tarif hingga 30% pada barang impor UE, yang tentu memicu langkah balasan di sektor layanan digital dan dirgantara.
Di sisi lain, data Penjualan Rumah Lama AS per Juni menunjukkan penurunan menjadi 3,93 juta unit per tahun, lebih rendah dari perkiraan 4,01 juta unit. Hal ini menandakan dampak negatif suku bunga hipotek tinggi pada pasar properti dan berpeluang memengaruhi kebijakan The Fed.