Bahlil Beberkan Kondisi Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Kondisi Geopolitik yang Terus Memanas

0
120

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia membeberkan kondisi energi Indonesia di tengah kondisi geopolitik yang terus memanas.

Berbicara mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam acara “Geoeconomic Fragmentation and Energy Security”, Selasa (24/6), Bahlil mengatakan kondisi geopoltik saat ini “sangat mencemaskan”.

Menurutnya, perubahan kondisi geopolitik terjadi begitu cepat, bahkan dalam hitungan jam.

Ia mengatakan perubahan kondisi geopolitik ini mulai terjadi pada 2016-2017 saat terjadinya perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

Berlanjut ke pasca pandemi Covid-19, saat semua negara berpikir untuk memulihkan ekonomi, terjadi ketegangan antara Rusia dan Ukraina, yang kemudian disusul oleh konflik antara Israel dan Palestina.

Belum selesai persoalan Israel dan Pelestina, ketegangan baru muncul di Timur Tengah yaitu perang antara Israel dan Iran, dimana Amerika Serikat ikut di dalamnya, kata Bahlil.

Sementara di kawasan Asia Pasifik ketegangan terjadi antara Pakistan dan India.

“Akibat ini, melahirkan sebuah kondisi ekonomi yang susah untuk kita prediksi,” ujar Bahlil.

Parahnya, dalam kondisi seperti ini, menurut Bahlil aliansi ekonomi antara negara kehilangan relevansinya.

Baca Juga :   Tenaga Ahli Kementerian ESDM Tegaskan Gonjang Ganjing Kadin Tidak Ada Hubungannya dengan Bahlil Lahadalia

“Di awalnya ketika ketika ingin bergabung pada sebuah kawasan-kawasan ekonomi dengan harapan saling mendukung, sekarang hampir semua negara memikirkan kepentingan negaranya masing–masing,” ujarnya.

Di tengah tekanan kondisi ekonomi ini, tambah dia, dunia juga dituntut untuk melakukan transisi energi dari fosil ke energi baru dan terbarukan.

Menilik ke belakang, Bahlil mengatakan, Indonesia pada 1996-1997 pernah menjadi negara eksportir minyak dunia.

Saat itu, dengan konsumsi hanya 500 ribu barel per hari, lifting minyak Indonesia mencapai 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari.

Namun, setelah krisis ekonomi 1997/1998, lifting minyak Indonesia terus mengalami penurunan.

Tahun 2024, lifting minyak Indonesia hanya sekitar 580 ribu barel per hari. Padahal, tingkat konsumsi minyak di dalam negeri sudah mencapai 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari.

“Ini sebuah tantangan yang luar biasa bagi Indonesia. Di saat bersamaan perang Iran-Israel dan Amerika ikut, selat Hormuz sekarang sudah dalam kondisi yang mengerikan juga, karena parlemen Iran sudah menyetujui untuk penutupan itu. Dalam hitungan kami, hampir 30% jalur distribusi (minyak) itu lewat situ. Kita enggak pernah berpikir apa yang akan terjadi pasca penutupan,” ujarnya.

Baca Juga :   Indonesia-AS Sepakati Kerja Sama Energi Bernilai USD 15 Miliar

Lantas apa yang harus dilakukan?

Di tengah kondisi geopolitik yang tak menentu, dalam konteks ketahanan energi, Bahlil mengatakan Indonesia perlu meningkatkan produksi minyak dalam negeri.

Ia mengatakan saat  ini jumlah sumur minyak di Indonesia sekitar 39 ribu hingga 40 ribu sumur. Namun, hanya 16 ribu hingga 17 ribu diantaranya yang berfungsi.

“Ketika geopolitik tidak menentu, maka tidak ada cara lain, yang harus kita lakukan adalah kita mengukur keunggulan komparatif kita,” ujarnya.

Menurutnya, dari sumur-sumur minyak yang ada saat ini di Indonesia, yang berfungsi baru kurang lebih 16 ribu hingga 17 ribu sumur. 

“Strategi pertahanan yang lebih baik untuk menghadapi global yang tidak pasti adalah memaksimalkan potensi kekayaan kita dan ini kita akan melakukan ekspansi untuk meningkat lifting,” ujarnya.

Tahun 2025 ini, target lifting minyak pemerintah sebesar 605 barel per hari. Bahlil berharap, nanti realisasi lifting minyak tersebut tercapai sesuai target dalam APBN.

“Sekarang kita banyak melakukan kerja sama dengan berbagai negara dan perusahaan-perusahaan dari luar negeri yang mempunyai teknologi. Kemarin saya baru pulang dari Rusia mendampingi Bapak Presiden, kemudian kita melakukan kerja sama dengan Amerika, kemudian dengan China,” ujarnya.

Baca Juga :   Hilirisasi Nikel akan Dijadikan Prototipe Hilirisasi Komoditas Lainnya

Selain minyak, Bahlil juga mengungkapkan kebutuhan Liquid Petroleum Gas (LPG) Indonesia juga sangat tergantug pada impor. 

Ia mengatakan setiap tahun kebutuhan LPG sekitar 8 juta ton. Namun, industri dalam negeri hanya mampu menyuplai 1,3 juta ton.

Sisanya, sekitar 7 juta ton diimpor, dimana 54% diimpor dari Amerika Serikat dan sisanya dari Timur Tengah serta beberapa negara lain di kawasan Asia termasuk Malaysia.

Untuk meningkatkan ketahanan energi, jelasnya, “tidak ada cara lain”, selain memanfaatkan potensi di dalam negeri.

“Batu bara kita cukup banyak, kita bisa olah untuk mengganti LPG menjadi DME,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics