BGN Hentikan Operasional SPPG Kota Soe 1, Ini Penjelasannya

0
44
Reporter: Rommy Yudhistira

Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Soe 1. Penghentian operasional SPPG dilakukan hingga hasil laboratorium, dan rekomendasi perbaikan dikeluarkan.

Ketua Tim Investigasi Independen BGN Karimah Muhammad mengatakan, langkah tegas itu diambil setelah tim investigasi menemukan beberapa hal di lapangan. Investigasi digelar pasca-kejadian luar biasa (KLB) keamanan pangan program makan bergizi gratis (MBG) di Soe pada 3 Oktober lalu.

Dalam peristiwa itu, kata Karimah, sebanyak 384 penerima manfaat mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan sesak napas. Gejala tersebur terjadi lantaran penerima manfaat mengkonsumsi soto ayam suwir yang dibagikan SPPG Soe 1.

“Kejadian itu diduga disebabkan kesalahan dalam pengolahan dan penyimpanan bahan pangan, khususnya daging ayam, yang tidak memenuhi standar keamanan pangan,” kata Karimah dalam keterangan resminya pada Rabu (8/10).

Tim investigasi, kata Karimah, menemukan fakta bahwa SPPG Soe 1 sempat membatalkan pengolahan bahan baku karena ada daging ayam beku yang tidak layak olah, dan bahan baku yang belum lengkap. Kemudian, SPPG menerima ayam beku baru dengan kondisi yang tampak baik dari pemasok ayam pada 2 Oktober 2025.

Baca Juga :   Buntut Logo Digunakan Tanpa Izin, BGN Ingatkan Semua Pihak agar Tidak Langgar Hukum

Setelah dibiarkan pada tingkat suhu ruang, kata Karimah, daging ayam beku itu lalu diolah untuk menu soto ayam suwir. Selanjutnya, ahli gizi dan kepala SPPG memastikan bahan siap dimasak.

Proses pembagian pun, kata Karimah, dilakukan pada pukul 6.20 pagi pada 3 Oktober 2025. Setelah itu, makanan pun didistribusikan ke sejumlah sekolah dan Posyandu.

Namun, kata Karimah, sekitar pukul 13.30 pihaknya menerima laporan ada beberapa siswa yang mengalami muntah dan pusing. Sebanyak 384 orang dilaporkan mengalami gejala tersebut, dan dari 3.005 paket MBG yang dibagikan dengan angka serangan (attack rate) 12,81%.

Karimah menyebutkan, kasus terbanyak terjadi di SD GMIT 2 Soe dan RSUD Soe. Gejala dominan yang dilaporkan antara lain mual, muntah, pusing, dan diikuti buang air besar terus menerus, serta sesak napas.

Tim investigasi, kata Karimah, menemukan variasi angka serangan dengan tingkat tertinggi di TK Oenasi, dan SD GMIT 2 Soe. Sedangkan berapa sekolah lain seperti SMP Negeri 1 dan PAUD Bethania tidak melaporkan kasus.

Baca Juga :   PIEP Catatkan Kinerja Positif dari Operasional dan Produksi di Semester I/2024

Dari data itu, kata Karimah, menunjukkan adanya kemungkinan paparan yang tidak merata akibat penyimpanan bahan pada suhu yang tidak tepat, atau perbedaan kualitas bahan pangan. Sebab, sebelum makanan dibagikan, relawan di SPPG pun ikut mencicipi makanan tersebut. Namun para relawan tidak mengalami gejala serupa.

“Relawan dapur yang ikut mencicipi makanan tidak mengalami gejala,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics