Digitalisasi Jadi Tren, Apakah Konvensional Marketing Masih Relevan?

0
1180

Digitalisasi sudah terjadi di hampir semua aspek kehidupan saat ini sebagai dampak dari kemajuan teknologi informasi. Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun lalu turut mempercepat proses digitalisasi ini.

Di dunia pemasaran, menurut pakar marketing Alex Mulya, jargon digital marketing dan database marketing juga lagi ramai. Tetapi apakah dengan begitu konvensional marketing tidak dibutuhkan lagi?

Jawabannya, menurut Alex, konvensional marketing masih relevan terutama untuk bisnis dengan skala yang besar dan sudah mapan.

“Meskipun saya termasuk orang yang mengadvokasi perkembagan digital dan teman-teman para marketer juga harus mulai belajar embrace dunia digital, tetapi ada beberapa catatan,” ujar Alex dalam Webinar & Virtual Award Iconomics Marketing Brands 2021 yang digelar The Iconomics, Jumat (5/2).

Pertama, digital marketing berkembang dengan taraf yang memang luar biasa dan di luar dugaan. Alex mengatakan perushaaan besar memang sebaiknya mulai bereksperimen dengan metode-metode canggih untuk bisa memahami what works and what doesn’t work. “Nanti teman-teman ketinggalan kalau enggak belajar dari sekarang. Efektifitas mungkin belum sampai 50-60% tetapi you have to learn from now,” ujar pria yang juga Direktur Riset di The Iconomics ini.

Baca Juga :   WORKSHOP: DIGITAL MARKETING: TREN PEMASARAN DIGITAL DI ERA INDUSTRI 4.0

Kedua, lanjut Alex, digital marketing memang menjadi main marketing tools bagi small and new business. Tetapi, kalau big business biasanya enggak. “Big business main marketing masih konvensioanl marketing. Tetapi kalau small and new business itu banyak yang the main tool-nya itu sudah digital marketing,” ujarnya.

Digital marketing untuk bisnis besar yang sudah mapan, menurut Alex, masih merupakan pelengkap dan bukan subtitusi dari poor availability dan suboptimal conventional marketing practice. “Jadi marketing practice conventional masih merupakan sesuatu yang terus dioptimalkan sambil Anda mulai merambah ke digital,” ujarnya.

Menurut Alex, prilaku pembelian di Indonesia, di kawasan rural dan sub urban sekalipiun, masih sangat konvensional. “Itu mesti sangat kita sadari. Maka make sure we do the conventional things right,” ujarnya.

Terakhir adalah konvensional marketing dan distributon practice terutama berguna untuk menciptkan first buy dan trial. Perusahaan berpotensi untuk melangkah ke loyality marketing dengan database dan digital relationship karena hal itu sudah relatif murah dan bisa diterima oleh customer muda dan milenial.

Baca Juga :   Ini Merek-Merek yang Masuk Iconomics Marketing Brands Award 2021

“Kesimpualnnya adalah untuk trial dan first buy tetap konventional marketing itu enggak boleh ditinggalkan dan itu masih dominan 70% hingga 80%. Untuk retention Anda bisa masukin aspek-aspek digital lebih bayak karena kita mulai bermain database marekting. Mungkin konvensional tinggal 60%, 40%-nya adalah digital retention strategy. Untuk advokasi dan untuk bisa mengembangkan penggunaan itu baru bisa pergunakan digital lebih bayak,” tutupnya.

 

 

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics