Hasil MoU 2 Perusahaan Ini, Produk Sarung Tangan Medis RI Potensi Hasilkan US$ 12 Juta Setiap Tahun
Gedung Kementerian Perindustrian/makobar.com
PT Haloni Jane menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan asal Brasil Excelmed Distribuidora De Materiais Medicos E Odontologicos LTDA. Hasil MoU tersebut, produk sarung tangan medis Indonesia berpotensi menghasilkan nilai transaksi sebesar US$ 12 juta per tahun.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan, pembelian produk itu menjadi bukti kepercayaan pembeli terhadap barang asal Indonesia. Juga menandai posisi Indonesia sebagai penyedia alat kesehatan yang kompetitif, dan terpercaya di tingkat internasional, sekaligus memperkuat upaya perluasan akses pasar ekspor Indonesia.
“Medica 2025 telah menjadi panggung signifikan unjuk menunjukkan bahwa peralatan kesehatan Indonesia diakui dunia dan memenuhi standar internasional,” kata Puntodewi dalam keterangan resminya pada Jumat (21/11).
Kemudian, kata Puntodewi, pada ajang Medica 2025, Indonesia juga bekerja sama dalam bidang pengembangan kesehatan. MoU itu melibatkan Rumah Sakit Dharmais, PT Graha Teknomedika dari Indonesia, dengan European Life Technologies Hungary Zrt. (ELT) dari Hungaria, Sulico Ltd. Hungary dari Hungaria, dan Qualysoft Information Technology dari Slovakia.
Pada sejumlah kesepakatan tersebut, kata Puntodewi, mendorong pembangunan laboratorium genetika molekuler di Indonesia, dan program pelatihan tenaga kesehatan.
“Kami harap penandatanganan kedua MoU ini mendorong sinergi yang lebih kuat antara pelaku industri alat kesehatan nasional dan mitra strategis internasional. Hal ini akan bermanfaat dalam peningkatan ekspor Indonesia, mewujudkan transfer teknologi, serta memperkuat kapasita produksi dalam negeri,” ujarnya
Sebagai informasi, Medica 2025 diselenggarakan pada 17-20 November 2025. Pameran itu dikenal sebagai wadah bagi pelaku bisnis lintas benua. Partisipasi Indonesia memberikan manfaat tidak hanya dalam memperluas akses pasar, tetapi juga mendorong ekspor teknologi tinggi, yang telah disusun dalam rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.