Industri Asuransi Jiwa Bayarkan Klaim Rp110,44 Triliun per Januari–September 2025

0
51

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan total pembayaran klaim dan manfaat asuransi pada periode Januari–September 2025 mencapai Rp110,44 triliun, turun 7,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ketua Bidang Kanal Distribusi AAJI, Albertus Wiroyo, menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan komitmen industri dalam memberikan perlindungan keuangan kepada masyarakat.

“Total pembayaran klaim tersebut diberikan kepada 6,92 juta orang penerima manfaat,” kata Albertus dalam konferensi pers, Senin (8/12).

Albertus memaparkan bahwa pada periode ini klaim akhir kontrak meningkat 9,8% menjadi Rp14,20 triliun. Ia menyebut kenaikan ini sebagai kabar baik karena mencerminkan loyalitas nasabah dalam mempertahankan polis hingga jatuh tempo.

Klaim surrender atau pembatalan polis turun tajam 18,7% dengan nilai Rp47,26 triliun. Penurunan ini dinilai sebagai indikator meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan jangka panjang melalui asuransi jiwa.

Klaim partial withdrawal naik 8,6% menjadi Rp16,34 triliun, seiring pemanfaatan nilai tunai polis untuk kebutuhan finansial jangka pendek.

Pada periode yang sama, klaim meninggal dunia turun tipis 0,2% menjadi Rp8,36 triliun. Klaim kesehatan mencapai Rp19,35 triliun, turun 7,5% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, klaim lain-lain meningkat 7,3% dengan total Rp4,92 triliun.

Baca Juga :   Adanya Physical Distancing, AAJI Minta Relaksasi untuk Pemasaran

Meski menurun, segmen klaim kesehatan tetap menjadi sorotan industri. Albertus menjelaskan bahwa penurunan pada segmen kumpulan menjadi faktor utama turunnya klaim kesehatan secara keseluruhan. Klaim kesehatan perorangan naik 1,9% menjadi Rp11,99 triliun, sedangkan klaim kesehatan kumpulan turun signifikan 19,5% menjadi Rp7,35 triliun.

Selain itu, asosiasi melaporkan rata-rata pembayaran klaim kesehatan perorangan mengalami lonjakan signifikan. Pada 2024, rata-rata pembayaran klaim kesehatan perorangan sebesar Rp37,76 juta, meningkat menjadi Rp48,40 juta pada tahun ini.

Kenaikan sekitar 28% ini dipengaruhi berbagai faktor, termasuk inflasi biaya kesehatan.

“Kami akan terus memantau perkembangan ini secara berkala untuk melihat apakah tren peningkatan ini bersifat sementara atau menunjukkan pola yang berkesinambungan,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics