Karena Lockdown, Pertumbuhan Ekonomi Malaysia Diperkirakan Anjlok
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin/The Star Online
Kementerian Keuangan Malaysia memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara tersebut akan meleset dari perkiraan sebelum masa perpanjangan lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona. Perkiraan sebelumnya dengan masa lockdown 2 pekan, pertumbuhan pada April berkisar -2% dan sekitar 0,5% pada tahun ini.
“Kita sekarang (lockdown) sudah lebih dari 5 minggu sehingga pertumbuhan akan menyusut lebih banyak lagi,” kata Menteri Keuangan Malaysia Tengku Zafrul Tengku Abdul Aziz seperti dikutip Reuters pada Sabtu (2/5).
Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin memutuskan untuk melonggarkan penerapan lockdown sebagai langkah untuk menghidupkan lagi aktivitas perekonomian. Tingkat kerugian yang dialami Malaysia selama penerapan lockdown diperkirakan mencapai Rp 216 triliun.
Dengan menerapkan lockdown sejak 18 Maret lalu, maka aktivitas perekonomian Malaysia otomatis berhenti. Sebab, seluruh tempat usaha dan sekolah ditutup, tak boleh mengadakan perjalanan yang melintasi perbatasan wilayah maupun antar-negara, penerbangan diberhentikan sementara, warga dilarang keluar rumah dan pembatasan sosial wajib ditaati.
Perkiraan pertumbuhan yang diproyeksikan bank sentral Malaysia itu disebut terburuk dalam lebih dari satu dekade. Pemerintah Malaysia telah mengumumkan paket stimulus sekitar 250 miliar ringgit termasuk stimulus fiskal 25 miliar ringgit untuk membantu perekonomian negara.
Karena jumlah orang yang terpapar corona menurun dari waktu ke waktu, pemerintah memutuskan aktivitas perekonomian secara bertahap akan kembali beroperasi mulai 4 Mei nanti. Hampir semua tempat usaha diizinkan untuk kembali beroperasi.
Sejauh ini, jumlah kasus Covid-19 di Malaysia mencapai 6.002 orang. Dari jumlah itu, 102 orang dinyatakan meninggal dunia.