Kemendag Minta Pelaku Usaha Manfaatkan 2 Perjanjian Dagang Komprehensif Ini, Apa Saja?
Menteri Perdagangan Budi Santoso/Iconomics
Pemerintah Indonesia telah menyelesaikan 2 perjanjian perdagangan yakni, Indonesia-European Union (EU) Comprehensive Economic Partnership (CEPA), dan Indonesia-Canada CEPA. Untuk CEPA, misalnya, bermanfaat memperluas akses pasar produk Indonesia di kancah global.
Manfaat CEPA, kata Menteri Perdagangan Budi Santoso, khususnya untuk produk unggulan seperti tekstil, kayu, furnitur, alas kaki, elektronik, makanan olahan, pertanian, dan perikanan. Indonesia-Canada CEPA, merupakan persetujuan dagang komprehensif pertama Indonesia di kawasan Amerika Utara.
Sedangkan dalam perjanjian Indonesia-EU CEPA, Indonesia memiliki persetujuan perdagangan dengan 27 negara anggota Uni Eropa. “Titik tolak perjalanan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memperkuat posisi perdagangan Indonesia, terutama dalam kondisi geopolitik, dan perdagangan dunia saat ini.
“Kita sudah mempunyai banyak perjanjian dagang. Kalau tidak salah ada sekitar 20 yang sudah implementasi, kemudian 10 sedang ratifikasi, dan 16 sedang proses negosiasi,” kata Budi dalam acara Forum Strategi Perluasan Pasar Ekspor ke Kanada dan Uni Eropa di Jakarta, Senin (29/9).
Sejauh ini, kata Budi, ekspor Indonesia pada periode Januari-Juli 2025 meningkat sebesar 8,03%. Meski menghadapi situasi global yang tidak menentu, Indonesia berhasil menjaga surplus ekspor dari US$ 16 miliar, menjadi US$ 23 miliar pada Januari-Juli 2025.
“Kita tingkatkan ekspor kita, dan setelah itu kita akan memperbanyak komunikasi kita dengan perwakilan,” ujar Budi.
Di samping itu, kata Budi, pemerintah pun berupaya meningkatkan ekspor UMKM melalui program UMKM Bisa Ekspor. Program ini dilakukan dengan presentasi bisnis (pitching) yang dilakukan oleh UMKM kepada calon klien. Kemudian yang kedua, penerbitan peraturan Menteri Perdagangan terkait pameran di luar negeri.
“Jadi kalau mau ikut pameran di luar negeri, nanti harus koordinasi dengan Kemendag. Ada syaratnya bahwa pameran di luar negeri itu, nanti booth-nya ada standarnya,” tambah Budi.
Seluruh upaya yang dilakukan, kata Budi, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di angka 8%, sebagai zaman yang sudah ditargetkan oleh pemerintah. Karena itu, seluruh pihak diminta memanfaatkan peluang-peluang yang sudah dibuka pemerintah melalui perjanjian kerja sama perdagangan.
“Mudah-mudahan fasilitas atau perjanjian ini dapat kita manfaatkan dengan baik, sehingga kita mempunyai kesempatan pasar yang luas,” kata Budi.