Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia dan CPO Kerek Inflasi April 2026
SPBU Pertamina/Dok. Pertamina
Dampak perang Amerika Serikat versus Iran yang terjadi sejak akhir Februari sudah terefleksi pada angka inflasi April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2026 sebesar 0,13% secara bulanan, dengan sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan harga.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,99% dan memberikan andil 0,12% terhadap inflasi nasional.
“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi yaitu tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,11% serta bensin dengan andil inflasi sebesar 0,02%,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan tarif angkutan udara sejalan dengan meningkatnya harga avtur setelah Pertamina melakukan penyesuaian pada April 2026. “Harga avtur mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2026 di setiap bandara yang beroperasi di dalam negeri,” ujarnya.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu konflik geopolitik turut mendorong peningkatan biaya transportasi.
Komoditas lain yang turut menyumbang inflasi pada April 2026 antara lain minyak goreng dengan andil 0,05%, tomat sebesar 0,03%, serta beras dan nasi dengan lauk yang masing-masing memberikan andil 0,02%.
Ateng juga menyampaikan bahwa harga minyak sawit di pasar internasional pada April 2026 mengalami kenaikan dibandingkan Maret 2026, melanjutkan tren peningkatan sejak awal tahun.
Meski menjadi pendorong utama inflasi, tidak semua komponen transportasi mengalami kenaikan. Tarif angkutan antarkota justru tercatat mengalami deflasi pada April 2026 setelah sebelumnya meningkat pada periode Lebaran.
Di sisi lain, tekanan inflasi dari kelompok pangan cenderung mereda. Sejumlah komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai mengalami penurunan harga seiring normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN) serta meningkatnya pasokan.
“Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan juga cabai merah,” ujarnya.