Kenapa Belanja Negara Tahun 2023 Lebih Rendah dari Perkiraan Realisasi Tahun Ini?
Konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN tahun 2023
Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2023, pemerintah mengusulkan belanja negara sebesar Rp3.041,7 triliun. Nilai belanja tersebut lebih rendah dari perkiraan realisasi belanja pada tahun 2022 ini yang diperkirakan sebesar Rp3.169,1 triliun.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menjelaskan level belanja negara tahun depan yang lebih rendah tersebut, terjadi karena pada tahun 2022 ini ada beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mencapai Rp502 triliun. Beban subsidi yang tinggi pada tahun ini terjadi karena harga minyak yang melambung tinggi dari ausmsi awal APBN. Hingga akhir tahun 2022, pemerintah memperkirakan rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada di level US$95 hingga US$105 per barel. Hingga Juli lalu, rata-rata ICP sebesar US$104,9 per barel.
Namun, tahun depan, jelas Sri Mulyani, diperkirakan harga minyak jauh lebih rendah. Pemerintah sendiri dalam asumsi RAPBN 2023 memperkirakan harga minyak mentah berada di level US$90 per barel, dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat yang juga terkendali di level 14.750.
“Oleh karena itu kelihatannya level total belanja tahun 2023 menurun. Namun ini sebetulnya terutama karena subsdi BBM diperkirakan tidak akan sebesar yang terjadi seperti tahun ini,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers, Selasa (16/8).
Tahun 2023, anggaran subsidi energi sebesar Rp336,7 triliun, lebih rendah dari Rp502,4 triliun pada tahun 2022 ini.