Neraca Dagang Masih Surplus di September 2025, Berturut-Turut Selama 65 Bulan Sejak Mei 2020

0
56
Reporter: Rommy Yudhistira

Neraca perdagangan Indonesia masih menunjukkan surplus senilai US$ 4,34 miliar pada September 2025. Capaian itu menjadi bukti tren surplus selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, secara kumulatif surplus periode Januari-September 2025 menjadi US$ 33,48 miliar. Nilai itu jauh lebih tinggi dibandingkan Januari-September 2024 yang hanya US$ 22,18 miliar.

“Dalam situasi dinamika perdagangan global, kita mampu menunjukkan kinerja yang baik. Surplus kita naik US$ 11,30 miliar dari US$ 22,18 miliar pada Januari-September 2024 menjadi US$ 33,48 miliar pada Januari-September 2025,” kata Budi dalam keterangan resminya pada Rabu (5/11).

Capaian ini, kata Budi, didorong dari surplus non-migas sebesar US$ 47,20 miliar, dan defisit migas US$ 13,71 miliar. Surplus non-migas disumbang dari perdagangan dengan beberapa negara antara lain, Amerika Serikat sebesar US$ 15,70 miliar, India US$ 10,52 miliar, dan Filipina US$ 6,45 miliar.

Dari sisi ekspor, kata Budi, ekspor Indonesia mencapai US$ 24,68 miliar atau turun 1,14% dibanding Agustus 2025. Namun apabila dibandingkan dengan September 2024, jumlahnya naik 11,41% secara tahunan (yoy).

Baca Juga :   Semen Indonesia Catatkan Kenaikan Laba Jadi Rp 2,79 T di 2020

Budi menambahkan, total ekspor Indonesia pada Januari-September 2025 sebesar US$ 209,80 miliar, atau tumbuh 8,14% secara kumulatif (ctc) dibanding periode yang sama pada 2024. Peningkatan ekspor tersebut ditopang pertumbuhan ekspor non-migas sebesar 9,57% (ctc) menjadi US$ 199,77 miliar.

“Tiga komoditas non-migas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi, yakni kakao dan olahannya (HS 18) yang naik hingga 68,75%, aluminium dan barang daripadanya (HS 76) naik 68,22%, serta berbagai produk kimia (HS 38) naik 51,08% ctc,” ujar Budi.

Dari sisi impor, ujar Budi, kinerja impor September 2025 tercatat sebesar US$ 20,34 miliar, naik 4,42% secara bulanan (mom), dan tumbuh 7,17% secara yoy. Nilai impor September 2025 terdiri atas sektor migas US$ 2,54 miliar, dan non-migas US$ 17,70 miliar.

Berdasarkan asal negara, kata Budi, impor non-migas didominasi Tiongkok, Jepang, dan AS dengan kontribusi mencapai 52,71%. Sementara itu, negara asal impor dengan kenaikan tertinggi adalah Meksiko 172,7%, Uni Emirat arab 67,08%, dan Arab Saudi 30,82%.

Baca Juga :   Indef: Belilah Emas, Nilainya Bisa Melonjak hingga 28% di 2020
“Secara kumulatif, impor Indonesia pada Januari–September 2025 mencapai US$ 176,32 miliar atau tumbuh 2,62% ctc. Peningkatan ini didorong oleh impor non-migas yang naik 5,17%, sementara impor migas turun 11,21% ctc,” katanya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics