Pelajaran dari Kebijakan Tarif Trump, Indef: Jangan Tergantung pada Satu Negara, Ciptakan Diversifikasi Pasar Ekspor
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti
Kebijakan tarif yang dibuat oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump menjadi pelajaran penting bagi Indonesia agar tidak tergantung pada satu negara, tetapi harus bisa menciptakan diversifikasi pasar ekspor, kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti dalam diskusi yang digelar lembaga itu pada Senin (21/7).
“Sehingga jika ada sesuatu atau gonjang ganjing di suatu negara, maka negara yang lain juga kita bisa lakukan ekspor,” ujar Esther.
Pada April lalu, Donald Trum menetapkan tarif impor yang tinggi untuk barang-barang yang diimpor ke AS dari berbagai negara. Produk dari Indonesia dikenakan tarif sebesar 32%.
Setelah melalui proses negosiasi, Trump menurunkan tarif atas produk Indonesia tersebut menjadi 19%.
Namun, sebaliknya, impor produk-produk AS dikenakan tarif 0% alias bebas tarif. Indonesia juga berkomitmen untuk membeli produk energi senilai US$15 miliar, produk pertanian senilai US$ 4,5 miliar, dan 50 unit pesawat Boeing terbaru.
Esther mengatakan, AS memang merupakan salah satu mitra dagang penting bagi Indonesia.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024, nilai ekspor non migas Indonesia ke AS mencapai US$ 26,3 miliar, terbesar ketiga setelah Tiongkok (US$60,2 miliar) dan ASEAN (US$45,1 miliar).
Pasar ekspor Indonesia yang besar juga adalah India (20,3 miliar), Jepang (US$18,5 miliar), dan Uni Eropa (US$17,1 miliar).
Sementara dari sisi impor, berdasarkan data BPS, pada 2024, nilai impor AS ke Indonesia sebesar US$9,4 miliar.
Sementara nilai impor Tiongkok mencapai US$71,6 miliar, ASEAN sebesar US$34,5 miliar, Jepang US$14,8 miliar, dan Uni Eropa US$12,6 miliar.
Menurut Esther, meskipun alami defisit dengan Tiongkok, namun nilai ekspor Indonesia ke negara itu juga besar. Karena itu, ia menyarankan untuk terus memperbesar pasar ekspor ke Negeri Tirai Bambu itu.
“Kita juga bisa melirik pasar-pasar negara lain, misalnya Uni Eropa. Data BPS menunjukkan bahwa Uni Eropa juga punya potensi yang besar, selain pasar ASEAN dan pasar negara-negara Asia yang lain,” ujarnya.
Untuk pasar Uni Eropa, misalnya, tambah Esther, Indonesia mengekspor komoditas seperti minyak nabati, hewani, industri kimia, mesin dan perlengkapan dan produk-produk mineral.
“(Komoditas) ini sebenarnya produk-produk yang relatif mirip yang kita kirimkan ke pasar AS. Jadi, kalau misalnya AS pasarnya itu ada tarif Trump, maka shifting dari pasar AS ke pasar Uni Eropa itu bisa kita lakukan dengan sangat mungkin,” ujarnya.
Selain terus memperlus pasar ekspor melalui diversifikasi pasar, Esther juga mendorong pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi di dalam negeri untuk menciptakan variasi produk yang dihasilkan Indonesia.
“Jadi, tidak hanya itu-itu saja yang dikirim atau diekspor, tetapi bisa produk-produk ekspor yang lainnya. Itu yang menurut saya bisa membantu menghadapi situasi gonjang-gonjang karena adanya kenaikan tarif dari AS. Strategi ini sudah dilakukan oleh Vietnam, makanya Vietnam pada perang dagang pertama pada 2019, menjadi pemenang, menjadi negara yang paling dapat keuntungan dari perang dagang pada saat itu,” ujarnya.