Pengerjaan Proyek BUMN Konstruksi Terhambat Karena Corona
Ilustrasi/Tempo.co
Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia sejak Maret lalu menyebabkan pengerjaan proyek konstruksi yang dikerjakan BUMN terhambat. Beberapa proyek yang berada di zona merah Covid-19 terpaksa dihentikan.
PT Pembangunan Perumahan Tbk atau PTPP misalnya, dari total 172 proyek yang sedang berjalan hingga April 2020, terdapat 12% proyek yang berada dalam kondisi lockdown dan berhenti sementara.
“Sedangkan sekitar 12% proyek berada dalam kondisi slowdown dimana terdapat perlambatan di beberapa kegiatan proyek di lapangan,” jelas manajemen PTPP dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (28/5).
Dijelaskan bahwa proyek-proyek yang terdampak Covid-19 tersebut memberikan kontribusi 51% hingga 75% pada pendapatan konsolidasi perusahaan pada 2019 lalu. Diperkirakan pendapatan pada kuartal pertama 2020 ini akan turun 25% hingga 50% dan laba bersih turun kurang dari 75%.
Tak hanya pendapatan dan laba yang turun, pandemi ini juga berpengaruh pada kemampuan PTPP untuk membayar kewajiban jangka pendek terutama pemenuhan kewajiban pokok utang. Ada pun total kewajiban jangka pendek PTPP saat ini berjumlah Rp 1,63 triliun.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk juga mengalami nasib serupa. Dari total 208 proyek berjalan WIKA Grup hingga April 2020, terdapat 13% proyek yang berada dalam kondisi suspend dimana terjadi penghentian sementara pada seluruh bagian kegiatan proyek. Sedangkan sekitar 23% proyek berada dalam kondisi slowdown dimana terdapat perlambatan di beberapa bagian seperti mobilisasi tenaga kerja dan pembatasan jumlah pekerja di lapangan akibat physical distancing.
Kontribusi pendapatan dari proyek-proyek terdampak tersebut pada 2019 lalu kurang dari 25% dari total pendapatan konsolidasi Wika. Dan diperkirakan akan menyebabkan pendapatan dan laba bersih pada kuartal pertama 2020 turun 25% hingga 50%.
Di tengah kondisi ini, Wika melakukan berbagai upaya untuk tetap mempertahankan kelangsungan usaha seperti melakukan efisiensi biaya usaha. Namun sampai sejauh ini tetap menghindari adanya pengurangan karyawan.
Wika juga memaksimalkan produksi pada proyek-proyek yang sedang berjalan dengan terlebih dahulu melakukan assessment kepada pemilik proyek yang memiliki kemampuan likuiditas sehingga perusahaan mampu mengatur arus kas (cashflow) masuk dan keluar.
Terkait utang kepada bank, Wika mengajukan relaksasi pada fasilitas non cash loan yang didapat perusahaan dari tenor 6 bulan menjadi 12 bulan dan mengajukan penurunan bunga pinjaman.
Upaya serupa juga dilakukan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Sejumlah strategi yang dilakukan Waskita adalah mengupayakan proyek yang masih berjalan di luar zona merah untuk dapat diakselerasi perkembangan (progress) pekerjaannya untuk memastikan pencapaian target pendapatan usaha perseroan.
Waskita juga memastikan target kas masuk tahun ini yang berasal dari pembayaran proyek maupun pengembalian piutang dana talangan tanah dapat diperoleh tepat waktu.
Upaya lainnya adalah mengupayakan proses pelepasan konsesi jalan tol dilakukan sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan melakukan efisiensi Opex baik di lingkungan proyek maupun di lingkungan kantor, tanpa mengurangi hak-hak kreditur, supplier, dan pegawai.
Manajemen Waskita juga mengajukan relaksasi atas pinjaman jangka pendek dan jangka panjang kepada Perbankan.
“Terdapat beberapa proyek perseroan yang terhambat pengerjaannya, terutama proyek-proyek yang berada di zona merah pandemi Covid-19,” jelas manajemen Waskita dalam keterbukaan informasi di BEI.
Meski tidak disebutkan jumlah spesifik proyek yang terdampak, tetapi diperkirakan proyek yang terdampak itu berkontribusi kurang dari 25% terhadap pendapatan konsolidasi tahun 2019 lalu. Akibat Covid-19 ini, diperkirakan pendapatan Waskita pada kuartal pertama 2020 ini turun 25% hingga 50% dan laba bersih turun kurang dari 75%.