Setelah IPO, Apa Komitmen Bukalapak?
Rachmat Kaimuddin, Direktur Utama PT Bukalapak.com Tbk
PT Bukalapak.com Tbk resmi menjadi perushaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (6/8). Emiten dengan kode saham BUKA ini meraup dana Rp21,9 triliun dari penawaran umum perdana sahamnya.
Rachmat Kaimuddin, Direktur Utama PT Bukalapak.com Tbk mengatakan IPO Bukalapak ini merupakan IPO terbesar dalam sejarah pencatatan perdana saham di Bursa Efek Indonesia. Minat masyarakat juga terbilang tinggi dimana tercatat terdapat hampir 100.000 investor yang melalukan pemesanan.
“Kami merasa tentunya sukses ini bukanlah hanya sukses Bukalapak, tetapi kami melihat bahwa ini adalah besarnya amanah dan besarnya kepercayaan terhadap potensi UMKM di Indonesia dan juga tentang potensi perekonomian di Indonesia, bukan hanya untuk kota besar tetapi juga untuk seluruh daerah di Indonesia termasuk di luar kota-kota besar,” ujar Rachmat dalam konferensi pers usai seremoni pencatatan perdana saham, Jumat (6/8).
Rachmat mengatakan tentunya ke depan menjadi tanggung jawab Bukalapak untuk terus menjaga kepercayaan investor dan juga seluruh stakeholder. “Kami ingin terus tumbuh dengan cara selalu mencari peluang untuk memberdayakan UMKM dan membuat UMKM itu naik kelas. Kita ingin selalu meningkatkan good corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik dan juga kita akan selalu memperbaiki kinerja baik itu dari sisi keuangan, sisi teknologi, dari sisi pelayanan dan sebagainya,” ujarnya.
Seluruh dana hasil IPO ini akan digunakan Bukalapak untuk modal kerja Perseroan dan entitas anak. “Fokus kita ke depananya tentu punya misi yaitu menciptakan keadilan ekonomi dengan cara kita ingin selalu meberdayakan UMKM, kita ingin yang jualan bisa lebih banyak, bisnisnya lebih maju, volumenya lebih tinggi lagi, proses yang lebih modern dan chanel-nya bisa lebih banyak,” ujarnya.
Dari sisi kinerja keuangan pada tahun 2020 lalu, Bukalapak membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp1,34 triliun, sudah berkurang dibandingkan kerugian periode berjalan tahun 2019 dan 2018 yang masing-masing sebesar Rp2,79 triliun dan Rp2,24 triliun. Pada triwulan pertama 2021 ini, Bukalapak masih mencatatkan kerugian periode berjalan sebesar Rp323,8 triliun.
Meski masih rugi, pendapatan Bukalapak tumbuh positif dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2020 lalu, perusahaan yang berdiri tahun 2011 ini mengantongi pendapatan sebesar Rp1,35 triliun, naik 25,5% dibanding pendapatan tahun 2019 yang sebesar Rp1,08 triliun. Tahun 2018 lalu, pendapatan Bukalapak masih sebesar Rp291,91 miliar.