Sri Mulyani: Subsidi untuk BBM Mayoritas Dinikmati Golongan Mampu

0
432
Reporter: Rommy Yudhistira

Belanja subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM) disebut akan menjadi lebih besar karena kondisi harga, kurs rupiah dan peningkatan konsumsi yang terjadi saat ini. Tren kenaikan harga minyak mentah Indonesia, misalnya, konsisten naik dari US$ 100 menjadi US$ 105 per barel.

Kemudian, nilai tukar rupiah, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, juga konsisten naik dari Rp 14.450 menjadi Rp 14.700 per dolar AS. Sedangkan dari sisi volume konsumsi BBM, untuk pertalite dari 23,05 juta kiloliter (KL) meningkat menjadi 29,07 juta KL, dan solar dari 15,1 juta KL menjadi 17,44 juta KL.

Jika tren ini terus dibiarkan, kata Sri Mulyani, maka pemerintah perlu menambah anggaran subsidi kompensasi sebesar Rp 195,6 triliun, sehingga anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 502,4 triliun meningkat menjadi Rp 698 triliun.

“Artinya jumlah subsidi kita itu akan mencapai Rp 698 triliun dengan volume kurs dan harga minyak yang sekarang terjadi dan trennya sampai akhir tahun,” kata Sri Mulyani secara virtual beberapa waktu lalu.

Baca Juga :   Maskapai Qantas Airways Luncurkan Penerbangan Jarak Jauh Terpanjang di Dunia

Dari sisi konsumsi BBM jenis Solar, menurut Sri Mulyani, sebesar 89% dinikmati dunia usaha dan 11% dinikmati rumah tangga. Dari yang rumah tangga, sebanyak 95% Solar dinikmati golongan rumah tangga yang mampu, sedangkan 11% dikonsumsi rumah tangga yang tidak mampu.

“Artinya Rp 149 triliun untuk Solar saja dan hanya 5% yang menikmati rumah tangga yang tidak mampu, selebihnya adalah dunia usaha dan rumah tangga yang mampu. Kalau Solar itu barangkali lebih banyak dunia usaha,” ujar Sri Mulyani.

Sementara untuk BBM jenis Pertalite, kata Sri Mulyani, sebanyak 86% dinikmati rumah tangga dan 14% dinikmati dunia usaha. Dari total anggaran sebesar Rp 93,5 triliun, 80% Pertalite dikonsumsi rumah tangga yang relatif mampu atau bahkan sangat kaya.

Dengan kata lain, kata Sri Mulyani, hampir Rp 60 triliun anggaran subsidi BBM jenis Pertalite dinikmati rumah tangga yang mampu. Sedangkan masyarakat miskin yang penggunaan untuk sepeda motor dan lainnya hanya mengkonsumsi 20%.

“Ini artinya dengan ratusan triliun subsidi yang kita berikan yang menikmati adalah kelompok yang justru paling mampu. Karena mereka yang mengkonsumsi BBM itu, entah itu Pertalite atau Solar, bahkan tadi juga Pertamax yang memang masih ada. Belum lagi kalau kita bicara tentang LPG 3 kilogram juga,” tutur Sri Mulyani.

Leave a reply

Iconomics