Suku Bunga Acuan Naik 50 bps, BI Perkirakan Dampak ke Suku Bunga Perbankan Tak Terlalu Signifikan

0
369

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 September 2022 menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis point (bps), setelah sebelumnya pada Agustus lalu sudah dinaikkan sebesar 25 bps. Kenaikan suku bunga acuan ini tentu akan berdampak kepada suku bunga perbankan, baik suku bunga dana maupun suku bunga pinjaman.

Namun, Bank Indonesia memperkirakan dampak kenaikan suku bunga acuan ini tidak terlalu signifikan ke suku bunga perbankan, karena kondisi likuditas di perbankan saat ini masih longgar dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masih tinggi di level 26,52%.

“Kami melihat bahwa kenaikan BI rate pengaruhnya terhadap kenaikan suku bunga perbankan akan lebih lambat dari kondisi sebelum Covid. Kenapa? Karena kondisi likuiditas perbankan itu sangat longgar. Memang tentu saja biasanya kenaikan BI rate itu berdampaknya ke suku bunga dana dulu baru kemudian suku bunga kredit. Tetapi kami tengarai elastisitasnya akan lebih rendah dibandingkan pada kondisi sebelum Covid karena kondisi likuiditas yang tetap longgar,” ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (22/9).

Baca Juga :   BI: Masih Ada Ruang Penurunan Suku Bunga Acuan

Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia menambahkan saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada Agustus lalu, suku bunga perbankan, baik suku bunga dana maupun suku bunga kredit masih menunjukkan tren penurunan. Untuk suku bunga dana turun sebesar 44 basis point menjadi 2,9% dan suku bunga kredit turun 48 basis point menjadi 8,94%. Penurunan tersebut, menurut Destry, terjadi karena kondisi likuiditas di perbankan yang masih cukup banyak.

Terkait dampak kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis point pada September ini, Destry mengatakan memang butuh waktu untuk melihatnya. Dalam kondisi normal, jelasnya, transmisi kenaikan suku bunga acuan ke suku bunga perbankan membutuhkan waktu satu hingga dua triwulan.

“Tetapi tentunya dengan kondisi saat ini yang memang likuiditas masih banyak, kami memperkirakan bahwa pengaruh ke perbankannya tidak akan terlalu signifikan. Tetapi kami akan terus memantau untuk melihat. Secara industri memang kita melihat likuidtas masih empel, tetapi mungkin nanti kita melihat juga secara granular,” ujar Destry.

Leave a reply

Iconomics