Tahun 2025, Laba Bersih BNI Turun 6,6% Menjadi Rp20 Triliun
Ilustrasi Gedung BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan penurunan laba bersih sepanjang 2025. Mengutip laporan keuangan perusahaan, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp20,04 triliun, turun 6,63% dibandingkan Rp21,46 triliun pada 2024.
Meski laba menurun, kinerja intermediasi BNI tetap tumbuh solid. Sepanjang 2025, BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,9% secara tahunan (year on year/YoY), didorong oleh ekspansi ke sektor-sektor produktif. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin kuat, tercermin dari dominasi dana murah (current account saving account/CASA) yang menopang efisiensi biaya dana di tengah dinamika pasar.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujar Putrama dikutip dari keterangan pers.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, pertumbuhan kredit 15,9% YoY sepenuhnya didanai oleh dana murah dengan pertumbuhan CASA sebesar 28,9% YoY. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan giro sebesar 43,8% YoY dan tabungan yang tumbuh 11,2% YoY. Struktur pendanaan yang sehat ini menopang pengelolaan likuiditas secara optimal.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BNI mencapai 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator. Kondisi ini memberikan ruang yang memadai bagi perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan sekaligus mengantisipasi berbagai risiko.
Momentum akselerasi bisnis terlihat pada kuartal IV 2025, di mana BNI berhasil membukukan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun, tertinggi dibandingkan tiga kuartal sebelumnya. Akselerasi PPOP tersebut didukung oleh pertumbuhan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).
Secara kumulatif sepanjang 2025, NII tercatat sebesar Rp40,3 triliun. Meski loan yield tertekan akibat penurunan suku bunga acuan, pendapatan nonbunga tetap tumbuh 5,2% YoY menjadi Rp24,6 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui kanal digital, treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas cabang.
Dari sisi kualitas aset, BNI mencatatkan perbaikan berkelanjutan. Rasio non-performing loan (NPL) bruto tercatat sebesar 1,9%, membaik 10 basis poin (bps) secara tahunan. Sementara itu, Loan at Risk (LaR) berada di level 8,5% atau membaik 1,8% YoY, mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit dan telah kembali ke kondisi sebelum pandemi.
Di sisi pencadangan, NPL coverage ratio mencapai 205,5% dan LaR coverage ratio sebesar 46,9%, menunjukkan tingkat kehati-hatian yang kuat dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.
“Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali,” jelas Paolo.