Wajib Disimak! 5 Strategi Menghadapi Bear Market

0
32

Bagi banyak investor, kondisi bear market memicu panik dan keputusan yang bisa merugikan. Padahal, investor berpengalaman justru melihatnya sebagai kesempatan.

Dikutip dari Pintu Academy, bear market adalah kondisi pasar ketika harga aset turun secara signifikan dan berlangsung dalam periode yang relatif panjang. Berbeda dari koreksi jangka pendek, bear market biasanya berlangsung berbulan-bulan hingga lebih dari setahun dan disertai sentimen negatif yang meluas.

Bear market biasanya terjadi setelah aset mencetak ATH yang kemudian disusul dengan adanya koreksi pasar karena telah mengalami reli yang panjang. Tekanan jual kemudian diperkuat juga oleh faktor lainnya seperti kondisi makroekonomi, kebijakan moneter, atau ketegangan geopolitik.

Secara historis, pasar kripto dikenal memiliki siklus 4 tahunan yang erat kaitannya dengan terjadinya fase bull dan bear market. Siklus ini berpusat pada peristiwa bitcoin halving, berkurangnya reward yang diterima penambang Bitcoin sebesar 50% setiap empat tahun sekali.

ATH baru cenderung terbentuk sekitar 2 hingga 3 tahun setelah Bitcoin mencapai bottom siklus sebelumnya. Dalam rentang tersebut, pasar biasanya mengalami fase akumulasi atau pergerakan sideways yang kerap dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi.

Tim Pintu Academy membagikan 5 tips strategi yang bisa dilakukan untuk bertahan di tengah bear market.

Pertama, sabar dalam menentukan aset dan target harga beli. Saat harga turun lebih dari 20%, kebanyakan investor yang baru masuk kripto langsung mengalami kepanikan dan menjual semua aset mereka. Investor yang telah melewati beberapa fase bear market kerap memiliki cara pandang yang berbeda. Mereka melihat bear market sebagai fase di mana aset-aset undervalue dapat diakumulasi.

Hal-hal yang bisa dilakukan antara lain, buat watchlist aset yang kamu yakini fundamentalnya. Lakukan ini di saat pasar mengalami penurunan maupun dalam fase tenang. Lihat bagaimana respons pergerakan harganya menyikapi penurunan harga Bitcoin. Aset yang mampu bertahan relatif lebih baik dari Bitcoin saat pasar melemah biasanya merupakan kandidat akumulasi yang menarik.

Baca Juga :   Anggota Ombudsman Ini Minta Pemerintah Bikin Strategi Rencana Jangka Panjang soal Impor Beras

Kemudian tetapkan target harga beli berdasarkan analisis yang sudah dibuat. Salah satu pendekatannya adalah mengidentifikasi area support historis sebagai zona pembelian aset, sehingga keputusan beli sudah terencana sebelum harga benar-benar sampai di sana.

Strategi kedua, proteksi modal. Prioritas utama di bear market adalah menjaga modal agar tidak tergerus dan mengambil keputusan yang didorong oleh bias yang menganggap penurunan aset adalah titik harga terendah sehingga mengalokasikan seluruh modalnya dalam 1 transaksi.

Strategi yang paling terbukti efektif untuk investor jangka panjang di kondisi ini adalah Dollar-Cost Averaging (DCA), membeli aset secara rutin dalam jumlah tetap, terlepas dari harga pasar saat itu.

Simulasi DCA vs beli sekaligus di Bear Market 2022. Misalkan seorang investor memiliki modal Rp12 juta pada awal 2022 dan ingin mengalokasikannya ke Bitcoin. Pada investor A (All In), ia menginvestasikan seluruh Rp12 juta sekaligus saat harga BTC berada di sekitar US$47.000. Ketika harga turun signifikan hingga akhir 2022, nilai portofolionya menyusut menjadi sekitar Rp3,9 juta, atau mengalami penurunan sekitar 67%. Pada investor B (DCA), ia mengalokasikan Rp1 juta per bulan selama 12 bulan. Dengan strategi ini, harga rata-rata pembeliannya berada di kisaran US$28.000. Akibatnya, penurunan nilai portofolionya relatif lebih terkendali, dan ia mengakumulasi lebih banyak BTC untuk potensi pemulihan pada siklus berikutnya.

Aturan dasar manajemen risiko di bear market adalah investasikan hanya uang yang tidak dibutuhkan setidaknya 1-2 tahun ke depan; tetap simpan dana darurat minimal 6-9 bulan pengeluaran di luar crypto; dan diversifikasi aset untuk mengelola risiko. Investor dapat menyebar modal ke beberapa kelas aset, seperti kripto dan saham, guna meningkatkan keseimbangan portofolio.

Baca Juga :   Menpar Beberkan 5 Strategi Mitigasi Pariwisata Indonesia Menghadapi Dinamika Geopolitik Global

Strategi ketiga, fokus pada fundamental aset. Bear market seringkali mengekspos kelemahan proyek-proyek kripto yang tidak memiliki fundamental yang kuat. Banyak token yang tampak menjanjikan saat fase bull market ternyata hanya didorong oleh sentimen dan spekulasi, sehingga ketika memasuki bear market, harganya tidak pernah benar-benar pulih.

Dengan demikian, bear market bukan hanya menjadi fase seleksi bagi investor yang memiliki ketahanan mental dan disiplin yang tinggi, tetapi juga berfungsi sebagai seleksi alam bagi proyek-proyek kripto. Dalam fase ini, proyek dengan fundamental yang lebih kuat cenderung mampu bertahan, sementara yang lemah perlahan tersingkir dari pasar.

Itulah kenapa di bear market, Bitcoin secara historis menjadi prioritas utama akumulasi bagi investor. Sebagai aset dengan likuiditas tertinggi, adopsi institusional terbesar, dan rekam jejak pemulihan yang sudah terbukti di setiap siklus, Bitcoin adalah aset yang paling terbukti bisa keluar dari bear market dan mencetak ATH baru.

Strategi keempat, pertajam skill dan analisis. Jika bull market merupakan fase untuk “memanen” hasil akumulasi sebelumnya, bear market adalah momentum ideal untuk membangun keterampilan dan memperdalam analisis. Fase ini memberikan ruang untuk belajar tanpa tekanan euforia pasar.

Trader atau investor yang memasuki bull market berikutnya dengan pemahaman yang lebih matang tentang dinamika pasar cenderung mampu mengambil keputusan yang lebih rasional, terukur, dan disiplin dibandingkan sebelumnya.

Hal-hal yang bisa dipelajari adalah analisis teknikal dan fundamental. Pelajari analisis teknikal yang dapat mencakup indikator, struktur, pola dan psikologi pasar. Perdalam juga pemahaman metrik on-chain seperti MVRV Z-Score untuk mengidentifikasi zona undervaluation dan overvaluation. Platform yang umum digunakan antara lain Tradingview, Bitcoin Magazine Pro, Glassnode atau CryptoQuant.

Baca Juga :   Dihadiri Lebih dari 1.000 Peserta, ICON 2022 Dinilai Menginspirasi Pelaku Usaha

Adapun saat melakukan analisis fundamental, selain mempelajari fundamental aset seperti whitepaper, kegunaan, tokenomics dan lain-lain, pelajari juga bagaimana faktor makroekonomi seperti kebijakan suku bunga, inflasi, dan likuiditas global dapat berkaitan dengan pergerakan pasar crypto. Analisis fundamental membantumu menilai kualitas aset, sementara pemahaman makro membantumu menentukan timing yang tepat. Kombinasi keduanya yang membedakan investor berbasis analisis dari spekulator yang hanya mengandalkan sentimen.

Strategi kelima, short selling. Di bear market, ada strategi yang memungkinkan trader yang tetap berpotensi menghasilkan keuntungan meski harga sedang turun, yaitu short selling. Berbeda dengan proses beli dan jual di pasar spot, short selling adalah aktivitas trading yang dapat melibatkan leverage dan membuka posisi jual terhadap kontrak Futures, artinya ketika harga turun kamu bisa mendapatkan keuntungan. Strategi short selling bisa diterapkan di fitur Pintu Futures untuk perdagangan derivatif crypto.

Pintu Academy menyebut short selling paling efektif digunakan dalam dua kondisi. Saat tren turun sudah terkonfirmasi secara teknikal. Saat ada relief rally, yaitu kenaikan harga sementara di tengah bear market yang bisa dimanfaatkan sebagai titik masuk posisi short sebelum harga kembali melanjutkan penurunan.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics