AP II Lakukan 3 Hal Ini untuk Kembalikan Citra Bandara di Masa Covid-19
Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Rabu (4/3)/The Iconomics
Kerja sama pemangku kepentingan diperlukan untuk membangun kembali citra bahwa bandara menjadi tempat aman dan nyaman dari wabah Covid-19. Kolaborasi tersebut dinilai akan membawa kebangkitan terhadap seluruh ekosistem transportasi udara yang telah terpuruk karena wabah Covid-19.
Direktur Utama Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengatakan, kerja sama pemangku kepentingan itu meliputi asosiasi maskapai, asosiasi ground handling, asosiasi hotel dan restoran, asosiasi agen perjalanan serta lain sebagainya. Semua ini untuk membangun sektor transportasi udara dengan cara-cara simpatik dan empatik dari keterpurukan.
“Bahwa jalan yang aman dan nyaman masih menjadi suatu pilihan yang dikombinasikan dengan disiplin terhadap protokol kesehatan yang dilaksanakan,” kata Awaluddin dalam “Talk Show & Awarding: Corporate Reputation BUMN (Before & After Pandemi) Milennial’s Perspective” yang digelar secara virtual oleh The Iconomics, Senin (28/9).
Untuk meredakan ketakutan para pengguna jasa transportasi udara, kata Awaluddin, perusahaan harus memberi solusi yang memadai. Termasuk melalui penyelenggaraan kampanye safe travel yang fokus pada 3 hal utama dan perlu disosialisasikan oleh seluruh asosiasi serta komunitas dalam industri.
Pertama, kata Awaluddin, memastikan kesiapan penerapan SOP yang ketat dengan pemahaman selaras antara seluruh kegiatan transportasi udara terkait regulasi-regulasi dari pemerintah untuk memastikan safe experience. Kedua, membangun kembali kepercayaan dan keyakinan para pengguna jasa bandara dan transportasi udara secara umum.
Dalam hal ini, kata Awaluddin, terdapat 5 hal yang dilakukan perusahaan yaitu jaminan terhadap physical distancing (jaga jarak); aspek health screening; memperbanyak fasilitas touchless processing system dengan pemanfaatan teknologi dan digital; memperkuat aspek kebersihan dan sanitasi; serta people protection.
“Kita harus menjamin bahwa people yang bekerja melayani penumpang dan pengguna jasa adalah orang-orang yang tidak dalam kapasitas punya kekhawatiran bisa mentransmisikan virus. Tapi sebaliknya juga kita harus melakukan protection terhadap karyawan kita karena karyawan kita juga punya potensi terpapar,” kata Awaluddin.
Ketiga, kata Awaluddin, perusahaan juga telah memperkuat intensitas startegi komunikasi perusahaan secara lebih intens memanfaatkan kekuatan pada 4 jenis media yaitu paid media, own media, social media, dan endorser media. Selain itu, penyampaian informasi dan komunikasi kepada publik yang secara rutin juga terus dilakukan evaluasi dan kontrol.
Ini menjadi penting agar perusahaan dapat menyampaikan berbagai pesan dan informasi kepada masyarakat terkait aspek regulasi, dan penerapan protokol kesehatan agar mereka tetap merasa nyaman dan tenang untuk menggunakan jasa transportasi udara.
“Menurut kami dalam konteks mensosialisasikan kepada masyarakat tentu tidak mudah tapi kita harus lakukan dengan pendekatan sangat baik. Itu kenapa konteks pemberitaan kita justru sangat meningkat, informasi kita kepada publik justru menambah dibandingkan sebelum pandemi,” katanya.