Bio Farma Group Waswas Nilai Tukar Dolar AS Terus Melambung, 80% Bahan Baku Masih Impor
Bio Farma Group waswas terhadap kenaikan nilai dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh Rp 18 ribu lebih. Sebab, 80% bahan baku produksi dalam Bio Farma Group merupakan barang impor.
Direktur Utama Bio Farma Group Shadiq Akasya mengatakan, dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) nilai dolar AS yang ditetapkan perusahaan sebesar Rp 16 ribu. Kondisi tersebut membuat Bio Farma Group mengambil berbagai langkah antisipasi untuk mencegah kerugian.
“Ini akan mempengaruhi bagaimana kami harus mengelola,” kata Shadiq dalam rapat bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Shadiq melanjutkan, pihaknya menjalankan strategi manajemen risiko natural hedging untuk mencegah kerugian yang besar. Pendapatan dari hasil ekspor produk ke 150 negara, akan digunakan untuk membeli bahan baku dengan dolar AS.
“Maka, 38% itu pendapatan dalam dolar AS. Dari pendapatan itu kita bisa melakukan natural hedging. Dibandingkan dengan penjualan kepada domestik itu kurang lebih sisanya sekitar 62%,” ujar Shadiq.
Selain itu, kata Shadiq, Biofarma Grup juga akan menggunakan dana cadangan dengan nilai dolar AS untuk menyeimbangkan biaya operasional, dan belanja bahan baku yang mengalami kenaikan.
“Untuk menyeimbangkan kebutuhan sekarang. Kami tertekan dengan kondisi yang sekarang ini. Jadi kami lakukan dengan cara itu,” ujar Shadiq.
Dari sisi kinerja, ujar Shadiq, Bio Farma Group membukukan laba bersih sebesar Rp 175 miliar pada Kuartal I/2026. Bio Farma Group perlahan-lahan mulai memperbaiki kinerja, dari yang sebelumnya merugi Rp 1,08 triliun pada 2024, lalu Rp 45 miliar pada 2025, kini mencatat laba Rp 175 miliar pada Kuartal I/2026.
Perbaikan kinerja, kata Shadiq, tidak terlepas dari peningkatan profitabilitas, dan performa penjualan yang bermargin tinggi. Kemudian, keberhasilan restrukturisasi keuangan di anak usaha juga menjadi faktor yang mempengaruhi.
“Kemudian hal lain yang dilakukan kami adalah efisiensi dari sisi operasional yaitu menekan harga pokok penjualan, dan sales general expensive di seluruh entitas dan sektor usaha,” ujar Shadiq.