UKM Paling Terdampak Covid-19, tapi Dinilai Paling Cepat Bangkit
Managing Partner Inventure Yuswohady/Ist
Sektor usaha kecil dan menengah (UKM) disebut paling rentan dan paling terdampak di masa wabah Covid-19. Sebabnya, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat daya beli konsumen menurun sehingga berdampak terhadap pendapatan sektor UKM.
Menanggapi itu, Managing Partner Inventure Indonesia Yuswohady mengatakan, dampak wabah Covid-19 itu sungguh dirasakan semua sektor perekonomian. Pembedanya, keterbatasan resource yang dimiliki UKM untuk bertahan. Sektor industri bisa bertahan karena memanfaatkan cadangan dana tanpa omzet selama 3 bulan. Sedangkan, untuk 1 bulan saja UKM tidak dapat bertahan.
“Jadi UKM merupakan sektor paling cepat terkena dan rontok, tapi sekaligus sektor paling cepat bangkit. Kenapa? Karena ciri dari UKM adalah agility, mereka sangat agile,” kata Yuswohady saat telekonferensi pers secara virtual, Kamis (25/6).
Agility dari pelaku UKM, kata Yuswohady, memungkinkan mereka untuk melakukan pergeseran lini bisnis secara lebih cepat dan lebih mudah, dibandingkan dengan suatu korporasi yang sudah memiliki aset besar dan biaya overhead yang sangat tinggi.
“Misalnya kalau Astra toyota, ketika mobilnya enggak laku, apakah bisa berubah jadi restoran? Tidak bisa, karena asetnya, capex dan overhead-nya udah besar. Tapi kalau UKM, yang awal dari restoran begitu restoran tidak laku berubah menjadi EO (event organiser). Kalau EO tidak laku berubah lagi,” kata Yuswohady.
Menurut Yuswohady, dengan adanya masa pandemi, masyarakat Indonesia telah semakin mengadopsi digitalisasi. Fenomena digitalisasi tersebut dapat dimanfaatkan UKM untuk tidak hanya membangkitkan bisnis, namun juga merampingkan kebutuhan resource mereka.
Semisal, UKM yang dulunya membutuhkan kantor besar untuk bekerja, kini dapat bekerja dari rumah (WFH). Lalu untuk restoran, tidak perlu lagi memiliki ruko besar untuk melayani dine-in, namun justru dapat mendirikan cloud kitchen di mana restoran hanya memiliki dapur, dan melayani konsumen melalui delivery.
“Dengan senjata digital UKM daya tahannya survivalnya akan cukup bagus. Jadi kalau pivot, itu gampang kalau untuk UKM, itu kemewahan dimilikinya. Saya ramalkan sekarang UKM berada di survival mode dan senjata pamungkasnya adalah digital,” katanya.