IHSG Ambruk, Direktur Utama BEI Mengundurkan Diri
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman pada acara Peresmian Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022, Jumat (30/12).
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengundurkan diri setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan drastis selama dua hari berturut-turut hingga memicu pembekuan sementara perdagangan pada 28 dan 29 Januari 2026.
“Sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi Pasar Modal Indonesia selama beberapa waktu ke belakang, pada hari ini, Jumat (30/1), Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengundurkan diri. Selanjutnya, manajemen BEI akan menjalankan prosedur sesuai dengan dokumen tata kelola perusahaan dan ketentuan yang berlaku,” tulis BEI dalam keterangan pers.
Sebelumnya, pada Selasa, 28 Januari 2026, BEI melakukan pembekuan sementara (trading halt) pada sistem perdagangan pukul 13.43.13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Perdagangan kembali dibuka pada pukul 14.13.13 waktu JATS tanpa perubahan jadwal perdagangan. Tindakan ini diambil menyusul penurunan IHSG yang mencapai 8 persen.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga perdagangan saham tetap teratur, wajar, dan efisien, sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas serta Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
Penurunan IHSG berlanjut pada Kamis, 29 Januari 2026. BEI kembali melakukan pembekuan sementara perdagangan setelah IHSG kembali turun hingga 8 persen. Perdagangan dilanjutkan pada pukul 09.56.01 waktu JATS tanpa perubahan jadwal.
Gejolak di pasar saham Indonesia ini terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan penyesuaian rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Februari 2026. Kebijakan tersebut diambil karena kekhawatiran MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi perdagangan terkoordinasi. Langkah ini menghentikan kenaikan bobot saham Indonesia serta penambahan saham baru, sehingga memicu tekanan jual (panic selling) dan penurunan tajam IHSG.
Merespons keputusan MSCI, PT Bursa Efek Indonesia bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menegaskan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan MSCI.
“Kami memandang masukan yang disampaikan MSCI adalah bagian penting dalam upaya berkelanjutan untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia. Kami memahami bahwa pembobotan MSCI memiliki peran strategis bagi pasar keuangan global serta menjadi salah satu referensi utama bagi investor,” tulis BEI dalam keterangan pada 28 Januari.
BEI menegaskan komitmennya untuk terus mengupayakan peningkatan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal, sesuai dengan praktik terbaik global dan ekspektasi pemangku kepentingan internasional.
Sebagai bagian dari langkah konkret, BEI telah mengumumkan data free float secara komprehensif melalui situs resmi BEI sejak 2 Januari 2026 dan akan menyampaikannya secara rutin setiap bulan.
Ke depan, BEI bersama SRO dan OJK akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi. Melalui koordinasi berkelanjutan ini, BEI optimistis dapat memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal nasional.