Listing di Agustus 2021, Bukalapak Diperkirakan Akan Masuk 20 Emiten Teratas di BEI
Tangkapan layar YouTube, Komisaris BEI Pandu Patria Sjahrir/Iconomics
Perusahaan teknologi diperkirakan akan mendominasi likuiditas tinggi atau saham LQ45 apabila listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hebatnya lagi perusahaan teknologi tidak membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk mencapai posisi itu.
“Bukalapak yang akan listing pada Agustus nanti akan mencetak sejarah karena nilai emisinya terbesar di BEI. Dan hanya butuh waktu 10 tahun, diperkirakan akan masuk ranking 20 dan masuk saham LQ45,” kata Komisaris BEI Pandu Patria Sjahrir dalam Investor Daily Summit 2021 bertajuk Menanti IPO Perusahaan Big Tech, Kamis (15/7).
Pandu mengatakan, Bukalapak sebagai e-commerce perusahaan teknologi memang menarik untuk dikaji dibandingkan dengan emites yang sudah puluhan tahun eksis di Indonesia. Sebagai calon emiten, Bukalapak telah memiliki mitra usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sekitar 6,9 juta sejak 2018.
Dari sisi pertumbuhan mitra, angka tersebut, kata Pandu, tumbuh sekitar 1.200%. Dibanding dengan perusahaan-perusahaan lainnya, perusahaan teknologi seperti Bukalapak mampu menjadi startup unicorn dengan valuasi aset lebih dari US$ 1 miliar hanya dalam waktu 10 tahun.
“Mereka sedang melakukan valuasi di Rp 77 triliun hingga Rp 87 triliun dengan ekspektasi fund rise di angka Rp 21 triliun. Ini yang menarik dari perusahaan teknologi karena sangat cepat mengubah ekosistem yang ada,” kata Pandu.
Soal fenomena tersebut, menurut Pandu, tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, sejak 2010 hingga 2010, pasar teratasnya didomininasi oleh perusahaan teknologi. Perkembangan pasar teknologi itu memang menjadi game changer dan menguasai perekonomian dunia.
“Di Asia Tenggara, sebagian besar startup unicorn-unicorn itu ada di Indonesia, bahkan calon unicorn pun berasal dari sini. Jadi, Indonesia di Asia Tenggara adalah negara terbaik untuk mencari unicorn baru dengan valuasi US$ 1 miliar ke atas,” kata Pandu.