Perusahaan Milik Chairul Tanjung (CT) Dipastikan Absen dari Right Issue Garuda Indonesia

0
755

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra memastikan PT Trans Airways tidak mengekesekusi haknya dalam penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PM-HMETD) atau rights issue Garuda Indonesia.

PT Trans Airways merupakan perusahaan milik taipan Chairul Tanjung. PT Trans Airways merupakan pemilik 7.316.798.262 atau 28,27% lembar saham Garuda Indonesia.

“Saya ingin menyampaikan bahwa Trans Airways tidak melakukan exercise saham ini, sehingga tentu saja ada implikasinya. Jadi,Trans Airways tidak berpartisipasi dalam right issue kali ini,” ujar Irfan menjawab pertanyaan peserta dalam paparan publik, Selasa (27/12).

Pemerintah Indonesia, yang memiliki 60,54% saham Garuda Indonesia dipastikan sudah mengekeskusi haknya senilai Rp7,5 triliun, yang merupakan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun 2022. Irfan mengatakan dana Rp7,5 triliun tersebut sudah masuk ke rekening perusahaan.

Seperti diketahui, jumlah saham Seri C yang diterbitkan dalam right issue ini sebanyak 63.210.504.593 saham. Dengan harga Rp196 per saham, Garuda Indonesia harusnya memperoleh dana sebesar Rp12,38 triliun.

Namun, mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, hingga akhir periode PM-HMETD pada Senin (27/12), jumlah saham di-exercise atau dilaksanakan berdasarkan HMETD sebanyak 38.481.278.278 lembar saham. Sehingga sisa saham setelah pelaksanaan HMETD adalah 24.729.226.315. Kemudian jumlah pemesanan tambahan sebanyak 1.306.858.397. Dus, sisa saham setelah penjatahan adalah 23.422.367.918 lembar saham.

Baca Juga :   Tindak Lanjut Instruksi Presiden, Garuda Indonesia akan Tambah Pesawat Hingga Mencapai 120 Unit

Selain melakukan penambahan modal melakui right issue, sebelum melangkah ke 2023, Garuda Indonesia juga menerbitkan saham baru tanpa HMETD atau private placement (PM-THMETD). Pertama, melaksanakan konversi atas Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp1 triliun. Obligasi OWK yang diterbitkan oleh Garuda Indonesia pada 28 Desember 2020 ini dipegang oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Jumlah saham seri C yang dibeli sebagai konversi atas obligasi tersebut mencapai 5.102.040.816 dengan harga Rp196 per saham.

Selain OWK, private placement juga dilakukan untuk konversi utang para kreditur sebagai pelaksanaan Perjanjian Perdamaian tanggal 17 Juni 2022 yang telah dihomologasi dan disahkan oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 27 Juni 2022. Jumlah saham seri C yang diterbitkan untuk konversi utang pada kreditur ini mencapai 21.329.763.265 dengan harga Rp196 per saham.

Pelaksanaan private placement atau PM-THMETD dilakukan pada 28 Desember 2022.

Garuda Indonesia juga menerbitkan Sukuk baru pada 28 Desember 2022 ini, sebagai restrukturisasi atas Sukuk lama senilai US$500 juta yang gagal bayar pada Juni 2021 lalu. Penerbitan Sukuk baru ini sebagai syarat suspensi saham GIAA bisa dibuka kembali.

Baca Juga :   Pendapatan Naik 18,07%, Rugi Bersih Garuda Indonesia Menyusut

 

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics